NEGERIKU
Oleh :
A. Mustofa Bisri
mana ada negeri sesubur negeriku?
sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung
tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya didunia
dan burung-burung indah piaraan mereka
berasal dari hutanku
ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku
emas dan perak perhiasan mereka
digali dari tambangku
air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku
mana ada negeri sekaya negeriku?
majikan-majikan bangsaku
memiliki buruh-buruh mancanegara
brankas-brankas ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku
negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai taulannya
terkaya di dunia
mana ada negeri semakmur negeriku
penganggur-penganggur diberi perumahan
gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok dibri rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi
tikus dan kucing
dengan asyik berkolusi
(Mustofa Bisri 1414)
S O A L
Rakyat - (Penguasa + Pengusaha) : (Umara + Ulama) +
(Legislatif - Eksekutif) + (Cendekiawan x Kiai) = ?
(Mustofa Bisri 1993)
Seorang Kurir dan Koper Hitam
Minggu, 25 Januari 2004
Cerpen Elba Damhuri
Jumat siang ini menjadi hari yang menentukan bagiku. Bukan karena cita-citaku ingin jadi pejabat atau anggota dewan tercapai sehingga hari ini teramat istimewa buatku. Bukan pula karena keinginanku mendapat istri cantik dan soleh terwujud. Bukan. Bukan itu.
Dari kabar yang masuk lewat SMS-ku pagi tadi, seseorang bilang bahwa ada seorang kurir yang akan membawa koper hitam ke tempatku. Ya sekitar jam tiga sore-lah. Aku sendiri sejak lama menantikan masuknya pesan seperti itu. Dan tentu, beberapa rekan sefraksi dan fraksi lainnya pasti menantikan pesan yang sama. Aku sangat yakin itu.
Bagiku, ini bukan yang pertama terjadi. Ketika aku bersama teman-teman di komisi sembilan berhasil menyetujui penjualan PT Telekomunikasi Lancar Tbk --sebuah badan usaha milik negara sektor telekomunikasi-- pesan seperti itu datang: Seorang kurir dengan koper hitam akan mendatangi Anda tepat jam sepuluh pagi di kantor Anda.
Kala itu, aku tak sabar menunggu tibanya waktu itu. Sejak dari rumah hingga di kantor, senyum ramah selalu keluar dari wajahku. Satpam rumah, juga orang-orang se-kantor, aku sapa dengan hangat. Wartawan yang menelpon, aku sambut dengan riang. ''Besok ke kantor ya,'' kataku menutup pembicaraan dengan seorang wartawan harian nasional yang biasa mengutip statement-ku.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun datang. Tepat jam sepuluh pagi, Nina, sekretarisku, bilang ada seseorang yang ingin bertemu. Aku tersenyum. ''Suruh dia masuk,'' kataku sambil merapikan jas. Terdengar suara Nina menutup gagang telepon dan mempersilakan tamu itu masuk.
''Assalamualaikum Pak Sofyan,'' sapa pria bertumbuh pendek sedikit gemuk dengan rambut ikal itu. ''Alaikumussalam,'' jawabku sambil mempersilakan pria itu duduk. Tangan kanan pria itu memegang koper hitam. Mataku tak henti-hentinya menatap koper itu. Pasti, orang inilah yang aku tunggu-tunggu.
''Saya dapat amanat untuk menyerahkan koper ini ke bapak,'' pria itu memulai pembicaraan.
Betul. Dia pasti kurir yang diutus untuk memberikan ganjaran kepadaku. Jantungku berdebar. Pria itu terlihat tenang dan tampak terbiasa menghadapi situasi seperti ini.
''Pak menteri dan pak dirut memberikan ini sebagai ucapan terima kasih atas jerih payah bapak,'' kata pria itu sambil menyodorkan koper hitam itu kepadaku. Aku angkat koper itu dan meletakkannya di kursi sebelah aku duduk. Belum sempat aku bicara, pria itu ngomong lagi. ''Itu saja, Pak. Saya mesti pergi.'' Dia pun berdiri dan menjabat tanganku. Aku agak kikuk tapi kucoba untuk tetap rileks.
Tak ada suara keluar dari mulutku kecuali ucapan terima kasih. Segera kusodorkan amplop berisi uang seratus ribuan sebanyak lima puluh lembar. ''Makasih, Pak,'' katanya sambil terus pergi. Tanpa menoleh, dia terus berlalu dan menghilang begitu pintu ruangan tertutup.
Langsung kubuka koper itu. Sebuah kartu kecil berisi ucapan terima kasih dari seorang menteri tergeletak di atas tumpukan uang ratusan ribu rupiah. Di surat itu tertulis jumlah uang sebesar Rp 300 juta.
Dadaku masih berdegup kencang. Aku elus uang itu. Terlintas di kepalaku berbagai hal yang selama ini aku pikirkan. Mobil baru, renovasi rumah, jalan-jalan sekeluarga ke luar negeri, umroh, modal buat pemilu tahun depan, dan tentu saja kawin lagi... Ah tidak. Naik haji lagi saja.
Belum selesai aku membayangkan apa yang akan kulakukan dengan uang ini, telpon genggamku berdering. Bunyi tone-nya musik shalawatan. Aku lihat nomornya dan langsung kukenali. Segera aku terima telpon itu. ''Beres, Pak,'' kataku singkat.
Tujuh bulan sudah peristiwa itu berlalu. Aku sendiri hampir lupa. Maklumlah, sebagai wakil rakyat dari sebuah partai berasaskan agama, kegiatanku penuh. Ada rapat-rapatlah, pembahasan undang-undang, belum lagi aktivitas partai ke pelosok daerah.
Kini, pesan itu telah datang lagi. Tepat pukul tiga sore Jumat ini, seorang kurir akan memberikan sebuah koper hitam. Lagi. Ya, itu sebagai tanda atas dukungan suksesnya pergantian direksi baru di sebuah BUMN kelas kakap.
Sesuai kesepakatan dengan beberapa rekan di fraksi, aku ikut mendukung satu kelompok direksi. ''Komisinya lumayan. Paling kecil 300 jutaan,'' kata seorang rekan dari fraksi terbesar di parlemen. Sepekan sebelum pergantian, aku dan lainnya menerima uang muka 50 jutaan.
Cash.
Usai shalat Jumat aku sudah nongkrong di kantor. Nina, sekretarisku, kupesankan untuk tidak menerima tamu kecuali seorang kurir yang menenteng koper hitam. Seperti biasa, Nina mengangguk dan kembali menyibukkan dirinya membaca arsip-arsip.
Baru pukul dua sore. Tinggal satu jam lagi. Dorongan untuk segera tiba waktu itu tak tertahankan. Aku isi waktu dengan memencet-mencet remot tivi, menggonta-ganti saluran tivi. Tetap saja, tak pengaruh.
Hingga ketika Nina bilang ada telpon, segera kuperintahkan untuk memforwardnya ke telpon ruangan. ''Dari Kemal, Pak,'' kata Nina. Kutarik bafas dalam. Bukan telpon yang aku tunggu-tunggu. Kenapa Kemal anakku yang duduk di kelas enam SD- menelpon sore-sore begini. ''Yah, tadi Kemal berantem,'' suara Kemal dari gagang telpon.
''Lho, kok bisa?''
''Kemal kesal Yah. Abis dia menghina Ayah.''
''Menghina gimana?''
''Temen Kemal bilang kalo pejabat itu kerjanya tukang boongin rakyat. Dia juga bilang pejabat cuma bisa korupsi. Kata kakaknya yang wartawan, pejabat kayak Ayah juga seperti itu. Kemal kan kesal Yah. Terus Kemal pukul aja mukanya.''
Sesak dadaku mendengar itu. Kemal terus cerita. ''Kemal bilang, Ayah orang yang jujur. Ayah juga orang baik, selalu ngajak Kemal shalat ke mesjid. Ayah juga sering membelikan mainan dan ngajak aku jalan-jalan.''
Tak tahan aku mendengar cerita si bungsu, anak yang paling aku sayangi. ''Ayah tidak korupsi kan?'' Kemal kembali bicara. Aku diam saja. Mataku menerawang ke langit-langit ruang kecil kantorku.
''Yah! Kok diam sih.'' Suara Kemal semakin kencang.
''Ya tidak dong sayang. Kan Tuhan membenci orang yang jahat,'' kataku, berat. Kemal pun mengakhiri pembicaraan sambil minta oleh-oleh sepulangku dari kantor. Seperti biasa.
Hujan turun rintik. Aku perhatikan dari kaca ruangan, beberapa orang berlari-lari mencari tempat berteduh di bawah sana. Dua-tiga pedagang minuman dan makanan merapatkan gerobak dagangannya di teras gedung. Pikiranku kembali mengawang ke anakku Kemal. Juga, kurir yang akan membawa koper.
Ya, ini memang hari yang sangat berarti bagiku. Banyak orang bilang aku masih muda, cerdas, dan memiliki masa depan politik bagus. Partai tempat aku bernaung pun meminta agar aku tetap mendaftar lagi jadi caleg tahun depan. ''Jelas, kamu butuh banyak uang untuk itu,'' kata Cholil Sudjais, sekretaris fraksi partaiku, suatu hari.
Aku juga teringat permintaan istriku jalan-jalan keliling Eropa. Dia merengek kepadaku untuk mengajak kedua orang tua dan seorang adiknya. ''Bisa kan, Yah,'' pinta istriku. Aku sendiri sudah berjanji untuk menyisihkan waktu pergi ke sana.
Tatkala memikirkan itu, sekilas melesat dalam fantasiku tausiyah Aa Gym yang menyerukan untuk hidup lurus-lurus saja. ''Percuma kita kaya kalau Allah tidak ridho,'' kata Aa Gym. Lihat tukang becak, kata Aa, meski duit di dompetnya sedikit, tapi halal.
Telpon ruangan berdering lagi. Ragu aku mengangkatnya. Bayangan Kemal, Aa Gym, Soedjais, istriku, dan Eropa serentak muncul di kepala. Suara telpon terus berdering memekkakan telinga. Tak lama, suara telpon itu berhenti.
Kuusap wajahku dengan kedua telapak tangan. Perang batin antara menerima atau menolak koper hitam itu berkecamuk. Memalukan memang. Kader partai agama seperti aku ini berkolusi seperti itu. Bayangan anakku kembali muncul. Jelas, aku harus tolak itu.
Sesaat pintu ruangan diketuk. ''Pak, ada tamu yang katanya sudah janji ketemu jam tiga,'' kata Nina. ''Dia bawa koper hitam.'' Tak ada jawaban lisan dariku, kecuali bahasa tangan meminta Nina untuk mempersilakan tamu itu masuk.
Seorang wanita mengenakan blazer hitam dipadukan rok mini berwarna hitam masuk ke ruangan dengan menenteng koper hitam. Wanita? Biasanya laki-laki pendek yang menemuiku.
''Saya tidak lama. Saya hanya membawakan titipan dari bapak Sahal Soemantri,'' kata wanita usia 20 tahunan itu sambil menyodorkan koper hitam yang dibawanya. ''Saya yakin Bapak sudah tahu.''
Ya jelas tahu. Itu kan bayaran atas dukunganku memilih Sahal sebagai Dirut PT Bank Sendiri Tbk. Kupandangi koper hitam yang kembali membawa fantasi macam-macam di pikiranku. ''Gimana, Pak?'' Wanita itu kembali angkat bicara.
''Oh iya. Tapi begini, tolong katakan pada Pak Sahal, saya tidak bisa mene....''
''Begini, Pak,'' wanita itu langsung memotong. ''Saya harus memberikan koper ini kepada Bapak. Kalau bapak punya pikiran lain, saya harap Bapak langsung berbicara dengan Pak Soemantri saja. Saya tidak mungkin keluar dari ruangan ini kalau tetap membawa koper ini.''
''Lagipula,'' dia melanjutkan, ''Isi di dalam koper ini mungkin bisa meringankan beban Bapak di pemilu tahun depan.''
Oh Mein Gott*. Kenapa dia harus bicara soal pemilu. Kenapa wanita itu merasa sok tahu dengan apa yang kupikirkan. Brengsek. ''Oke. Saya terima.''
Wanita itu tersenyum. Semakin cantik saja dia. Tapi bagiku, itu seperti senyum penghinaan. Dia pun meninggalkan ruangan, sementara aku tak memberinya apa-apa.
''Oh ya, sekretaris Bapak tahu di mana mencari saya malam ini,'' kata wanita itu sebelum menutup pintu ruangan.
Aku tersenyum kecut. Kubuka koper hitam yang berisi tumpukan uang ratusan juta itu. Lagi, muncul bayangan pembicaraanku dengan Kemal. Selintas kemudian, pikiranku dikacaukan ucapan Cholil Soedjais. Juga, omongan sinis wanita itu.
Ya sudahlah. Aku pun tak kuasa untuk mengembalikan koper hitam ini. Demi anakku, aku berjanji ini menjadi koper terakhir. ''Maafkam aku Tuhan,'' kataku sambil menutup koper hitam itu. Entah mengapa, senyum cerah pun hadir di wajahku.
Ya Tuhanku (bahasa Jerman).