Tunggu Aku di Jogja
Minggu, 05 Oktober 2003
Cerpen Dadi MH Basri
Pukul 05.15. Berarti lima belas menit lagi kereta Badra Surya segera membawaku meninggalkan Bandung. Hari masih gelap, tetapi stasiun sudah ramai. Hilir mudik orang-orang dan celoteh-celotehnya meramaikan pagi buta itu, menciptakan kehangatan di tengah suasana hatiku yang dingin mengalir.
Baru saja aku melaksanakan shalat subuh. Air wudhu yang masih melekat di wajahku menyisakan dingin. Tempat duduk di sampingku sudah ditempati seorang ibu yang tengah tertidur pulas, sedangkan tempat duduk di depanku masih kosong.
Kukancingkan jaketku. Dingin yang sejak tadi menyerbu, terasa menusuk-nusuk pori-pori tubuhku. Kaki kuselonjorkan. Mataku mulai terpejam. Ujung depan topi kutarik hingga menutupi sebagian wajahku. Ketenangan yang tengah kubangun tiba-tiba terusik oleh suara yang menggelitik pendengaranku.
"Permisi." Aku diam dalam setengah sadar.
"Maaf, kakinya," suara yang sama kembali terdengar.
Ini pasti ditujukan padaku karena di bangku ini hanya aku yang berselonjor kaki. Perlahan kutarik kakiku. Ah, mengganggu saja.
"Terima kasih."
Semakin jelas suara itu di rongga telingaku. Suara wanita. Suara itu menggelitik keingintahuanku. Aku mulai tergoda untuk melihatnya, tetapi segera kutegur diriku dan kuurungkan niat itu. Suara peluit melengking menggerakkan roda-roda kereta. Kereta berjalan perlahan meninggalkan debu-debu kemarau tahun ini. Seperti kemarau dalam hatiku: panas dan berdebu.
"Ibu ingin kamu melamar anak Bu Fat itu! Atau, kaulihat dulu anaknya! Berkenalan dulu!" Suara Ibu memukul-mukul rongga telingaku. Menyayat-nyayat harga diriku. Aku tetap diam.
"Mau pilih yang seperti apa? Anaknya cantik, shalehah, pintar? Susah cari gadis seperti itu di zaman sekarang ini?" Suara Ibu bagai rentetan mitraliur menghujani jiwaku yang terkapar.
"Kerja sudah, sebentar lagi diwisuda. Apa lagi yang kamu tunggu?"
Mendung semakin bergayut di langit jiwaku. Ah, Ibu, masih ada yang belum aku raih, tapi entah apa.
Dalam keadaan seperti ini, aku lebih baik diam. Aku dididik untuk senantiasa menghormati orang tua. Di saat-saat seperti ini, kami dilarang untuk langsung membantah. Setelah semuanya reda, baru kami berbicara baik-baik. Itu yang selalu diajarkan Ayah.
Ah, Ayah. Sosok yang selalu memberikan teladan dengan sabar. Ayah yang setiap pagi, sewaktu kami masih kanak-kanak, membangunkan kami di waktu subuh untuk segera menunaikan shalat. Ayah tidak pernah marah sewaktu kami enggan bangun. Ayah malah membisikkan bahwa telinga kami tengah dikencingi Setan Dasim. Telinga kami jadi budek dan bau. Kalau sudah demikian, kami akan segera bangun karena tidak mau air kencing setan jahannam itu menggenangi rongga telinga kami. Ah, betapa segarnya peristiwa itu.
Berbeda dengan Ibu, sosok yang selalu bersikap praktis. Semangatnya tidak pernah padam. Sosok yang tidak pernah mau diam. Ibu yang tetap tegar saat harus ditinggal Ayah untuk selamanya. Hanya beberapa tetes kesedihan yang singgah di pipinya.
"Tak patut menyesali takdir. Ini kehendak Allah." Begitu yang selalu Ibu ucapkan saat kami ditimpa kesedihan.
"Dia yang menggenggam kehidupan makhluk-Nya. Dia yang memiliki kita. Kita tak berhak mempertahankan orang yang kita cintai kalau sudah dipanggil oleh-Nya." Demikian yang Ibu ucapkan saat ditinggal wafat Ayah. Ada nada tegar di balik getar suaranya.
"Namanya Fitri. Sekarang, tengah menyelesaikan kuliahnya di Jogja. Anaknya manis. Ibu pernah bertemu beberapa kali," ujar Ibu membuyarkan lamunanku. Agak tergerak hatiku untuk menantikan lanjutannya.
"Ia juga pintar. Beberapa kali memenangkan lomba karya ilmiah. Sekarang, malah Bu Fat tak pernah mengirimi biaya kuliahnya, karena ia dapat beasiswa dan punya penghasilan sendiri." Semakin bergetar hatiku dan khusuk mendengarkan keterangan Ibu. Tapi, tak semudah itu Ibu menaklukkan ketegaran hatiku.
Ibu lalu menyodorkan sebuah amplop.
"Ini foto dan biodatanya. Kalau sempat, bacalah. Istikharah agar hatimu mantap."
Amplop itu kupegang dan senantiasa kupegang, tanpa ingin kuketahui isinya. Aku khawatir, isinya akan menggoyahkan ketegaran hatiku.
Aku memang aneh. Ketika banyak temanku di kampus ingin segera menikah, aku malah sebaliknya. Aku belum siap. Alasan apa yang membuatku menolaknya, aku pun tak tahu. Kekhawatiranku akan masa depan, karierku yang tengah aku bangun. Beribu alasan melintas dalam benakku. Padahal, aku sudah berpenghasilan lumayan dari proyek-proyek yang kukerjakan di sela-sela kuliahku. Lebih dari cukup.
Aku memang sibuk. Di senat, di rohis, proyek-proyek penelitian, sebaris pekerjaan yang meminta sentuhan tanganku. Semuanya berderet memanjang.
"Kau pengecut. Kau membayangkan ketakutan masa depan yang belum jelas. Absurd." Kakak perempuanku menikamku dengan ucapannya yang memedihkan. Ia memang menikah di usia muda, saat masih kuliah di semester tiga. Sampai kini, ia terlihat bahagia dengan suami dan tiga orang anaknya.
Panas dadaku. Pedih teriris kata.
Aku terbangun saat sinar matahari menerobos jendela dan menerpa wajahku. Sudah siang.
Ternyata di depanku tengah duduk seorang gadis yang tengah asyik membaca buku. Biar terlihat pintar, pikiran sinisku melintas. Membaca di atas goncangan kereta hanya akan merusak ketajaman penglihatan, sindirku dalam hati.
Buku psikologi. Oh, ia tengah menunjukkan kesombongannya di atas kereta ekonomi ini, ejekku dalam hati.
Gadis itu membetulkan letak kacamatanya. Cantik juga. Ada gelombang merambat di dalam hatiku. Ada getaran halus menyentuh dawai-dawai hatiku. Aku segera palingkan muka, kembali menatap pemandangan yang berlarian di luar jendela. Meredakan riak kecil yang mulai menjadi gelombang yang bergemuruh.
Kereta merangkak sesuai ritme perjalanannya. Beberapa stasiun kecil dilalui begitu saja. Pemandangan yang sudah kuhafal dalam memoriku, pemandangan yang senantiasa kunikmati dalam perjalanan Bandung-Surabaya. Sudah terbiasa. Tapi, tidak untuk kali ini. Karena saat ini, hatiku tengah menyeret beban yang menggumpal.
"Mas, ke Surabaya, ya?" Tiba-tiba sapaan halus menyentuh gendang telingaku.
Aku palingkan mukaku. Ada senyum tipis yang terbit di wajah gadis di depanku itu.
"Oh, ya ya," aku tergagap.
"Ada apa?" tanyaku, mencoba menutupi kegugupanku.
"Karcis Mas terjatuh." Ia menyodorkan secarik karcis yang memang milikku.
Kenapa harus jatuh dan mampir di ujung jarinya segala. Oh, mungkin saat selesai diperiksa petugas, karcis itu terjatuh.
"Terima kasih."
"Ke Surabaya juga?" Tanyaku. Kucoba membangun keberanian untuk menyapa gadis itu.
"Tidak. Saya berhenti di Jogja," jawabnya, ramah. Ada senyum yang menghiasi wajahnya yang anggun.
"Sendiri?" aku coba memastikan, sambil mataku melirik bapak yang duduk di sebelahnya.
"Ya. Biasanya dengan teman-teman. Tapi sekarang, mereka libur panjang. Saya harus segera menyelesaikan tugas," jawabnya rinci.
"Kuliah?" Muncul rasa penasaran terhadap gadis itu.
Beberapa saat kami terlibat perbincangan hangat, dari mulai teman-teman hingga kuliah. Akhirnya kutahu, ia seorang mahasiswi psikologi tingkat akhir yang tengah menyelesaikan skripsinya.
Setumpuk kegembiraan mulai terbangun. Ada harapan yang terselubung dalam rangkai percakapan kami. Gadis supel ini, ah, ia telah menyusup ke dalam kekosongan hatiku. Keriangan yang terpancar dari matanya sanggup mencairkan kebekuan hatiku. Dari gaya bicaranya, tampaknya ia gadis yang pintar dan berwawasan luas.
Sewaktu obrolan kami mulai menyentuh hal yang bersifat pribadi, ia mengelak. Padahal, aku hanya bertanya tentang asal dan tempat tinggalnya.
"Saya tak mau pribadi saya diketahui orang yang baru saya kenal," ucapnya beralasan.
"Cukup, kita berbicara tentang isi kepala kita saja," ucapnya tegas. "Selebihnya, no way."
Tanpa terasa, kereta sudah mendekati Stasiun Jogja. Berarti gadis itu harus segera turun. Irama lagu Sepasang Mata Bola lamat-lamat kudengar.
"Saya turun di sini," ucapnya, sambil tersenyum ke arahku.
"Sampai ketemu lagi," ucapku. Ada rasa kehilangan yang pelan-pelan menyelinap. Ah, andai saja gadis itu yang ditawarkan Ibu padaku.
Entah mengapa, hatiku yang dingin membeku, tiba-tiba mencair. Apakah karena daya tarik fisiknya? Kecantikannya? Bukan... bukan. Kalau karena itu, berapa banyak teman wanita yang tak kalah cantiknya, bahkan lebih cantik. Tapi, hatiku tak tergerak oleh kecantikan mereka. Atau, apakah karena caranya bertutur, kesupelan, atau kecerdasannya? Ah, tidak juga. Itu pun banyak dimiliki oleh banyak mahasiswi di kampusku. Bukan.., bukan karena semua itu.
Inilah rahasia. Tuhan telah menyusupkan rasa cinta. Cinta? Tuhanlah yang menggerakkan hati setiap makhluknya. Dia berkuasa membolak-balikkannya. Sekarang, Dia menggerakkan hatiku untuk mencintainya. Secepat inikah?
Ah, ada sesuatu yang terlupakan olehku.
"Oh ya, namaku Fikri. Namamu siapa?" tanyaku. Kebodohan itu kembali terulang. Dari tadi, kami berbicara tanpa kuketahui namanya.
"Nur," jawabnya singkat, sambil turun dari kereta.
Ada lambaian dan senyum tipis darinya sewaktu kereta mulai beranjak. Ada yang tertinggal di sini. Kembali, hatiku merasakan sebuah kegersangan. Hilanglah keceriaan yang sejenak hinggap dalam kehidupanku.
Kurogoh saku bajuku. Ada sebuah amplop yang sementara ini kuabaikan. Ah, aku teringat Ibu. Kukeluarkan isi amplop itu. Kucoba amati isinya. Ada baris-baris huruf yang tertera: Nur Fitri. Ini nama lengkap gadis yang disodorkan Ibu padaku. Seperti ada kemiripan. Tapi, kemiripan adalah hal yang lumrah di dunia ini. Apalagi sebuah nama.
Kembali kutelusuri kata demi kata dalam kertas itu. Semakin ada kemiripan. Apakah aku tak salah baca. Tiba-tiba ada sebuah kertas agak tebal yang menyembul dari amplop itu. Perlahan kutarik dengan dada berdebar. Ada seraut wajah tergambar jelas di permukaannya. Sebuah wajah yang sangat kukenal. Dan, baru saja kukenal. Oh, Ibu, maafkanlah aku, Ibu.
Aku mulai gelisah.
Aku segera memutuskan: sesampainya di Surabaya, aku harus segera kembali ke Bandung, menyeret sebongkah rasa malu pada Ibu. Untuk selanjutnya, aku harus pergi ke Jogja.
"Nur Fitri, tunggu aku di Jogja," desisku. Ada sejuta harapan yang tiba-tiba melintas.
Dadi eMHaBe, adalah editor di sebuah penerbitan di Jakarta. Pernah menjadi pegiat sastra dan teater di kampusnya, STKIP Singaraja (mantan FKIP Udayana) Bali.