Sastra
Tuesday, January 13, 2004

Menjerat Iblis 

Cerpen Sakti Wibowo

Ini tidak main-main. Dalam tidur, Kiai Dulkamid berhasil menjerat iblis yang mencoba menggodanya. Begitu berhasil menjerat makhluk mengerikan itu, kiai nyentrik ini memutuskan untuk terjaga agar bisa menyeret iblis ke dunia nyata.

"Lepaskan aku maka kau akan kuberi kekayaan," kata Iblis. "Bahkan lebih dari itu. Kau mau berapa puluh keping?"

Kiai Dulkamid hanya mencibir. "Seperti dua keping uang emas untuk seorang abid yang hendak menebang pohon jelmaan iblis di masa lalu? Sayang, aku tidak seperti itu. Bahkan segunung emas dan satu gunung lagi kautawarkan, aku tak akan tergoda."

Wajah Iblis lusuh, tak tampak lagi keperkasaannya. Bahkan wanita cantik yang pernah ditawarkannya kepada Harut dan Marut pun tak kuasa menggoyahkan iman Kiai Dulkamid. Kiai satu ini benar-benar terbebas dari nafsu terhadap harta dan wanita.
"Kalau begitu, bagaimana dengan tahta? Aku pernah melihat istana Balqis dan Sulaiman. Aku bisa memberimu tahta yang lebih dari itu jika kau mau. Kau akan kujadikan rajaku."

"Jangan macam-macam. Kalau aku tidak tertarik pada dua 'ta' yang pertama, kau pikir 'ta' yang ketiga akan menjadi sesuatu yang menggoda selera?"
Tahta memang sarana untuk mendapatkan harta dan wanita. Jadi, kalau terhadap keduanya saja Kiai Dulkamid tak menyimpan selera, bagaimana dengan ketiganya?

Wajah Iblis kian lusuh menyadari ia tak bisa berharap banyak dari jurus-jurus wajib menggoda 'tanah bernyawa' ini. Dirinya adalah api, dicipta dari api. Tanah yang terbebas dari unsur basah, kendati dibakar, tak akan berubah menjadi batu. Padahal, ia baru bisa dikatakan berhasil kalau bisa membatukan hati manusia.

"Begitulah hatiku," ujar Kiai Dulkamid yang menyentakkan Iblis sebab ternyata pikirannya telah tertebak oleh kiai nyentrik tersebut. "Api yang membakar tanah yang terbebas dari unsur basah memang bisa jadi berkonduksi, namun itu tak sampai mengubah tanah dalam diriku menjadi batu."
Bagi kiai yang luar biasa ini, permasalahannya bukan terletak pada dilepaskannya Iblis atau tidak. Ia tahu, Iblis tak bisa mati. Allah sendiri yang mengodratkan itu, dan karenanya, Kiai Dulkamid tidak berpikir bagaimana hendak membunuh Iblis.

Pagi harinya, sehabis Shubuh, umat ramai berkumpul di halaman masjid menonton makhluk menjijikkan yang terikat di tiang utama.
"Lepaskan aku!" pinta Iblis memelas kepada Kiai Dulkamid. "Aku akan kabulkan apa yang kauminta. Sebutlah apa yang kauinginkan."
"Bagaimana kalau aku minta akhirat? Apa kau juga bisa berikan?"

"Tapi kau butuh dunia, bukan? Jangan munafik. Kau pasti menginginkan dunia. Dunia bukan barang haram. Adam diutus menjadi khalifah karena adanya dunia. Tanpa dunia, maka tak ada khalifah."

"Ya, benar begitu," tambah Kiai Dulkamid. "Dunia adalah sarana, alat, wasilah. Tapi dunia juga air bagi tanah. Pada tanah yang dicampur air bisa tumbuh biji-biji. Jika pas komposisinya, ia bisa merefleksikan rububiyyah-Nya tentang penciptaan. Manusia, dengan adanya dunia, bisa menjadi makhluk yang ahsani taqwim, yang kepadanya pernah diperintahkan bersujud para malaikat."

"Kalau begitu, lepaskan aku. Akan ku...."
Kiai Dulkamid menatap wajah Iblis. "Apakah kaupikir kaulah yang memiliki dunia sehingga kau berani menawarkannya pada manusia? Bodoh bagi air kalau merasa dirinya yang menghidupkan biji-biji. Celaka bagi tanah jika merasa dirinyalah pemberi nyawa."
Orang-orang memperhatikan Kiai Dulkamid seperti menunggu apa yang hendak dilakukan kiai nyentrik itu. "Kalian lihat, inilah dia makhluk yang telah bersumpah di hadapan Allah untuk menjerumuskan manusia ke dalam neraka."
"Ya!" riuh jawab orang-orang.
"Bunuh! Bunuh saja, Kiai!"
Kiai Dulkamid menggeleng. "Keabadiannya dijamin Allah."

"Penjara! Penjara...!"
Kiai Dulkamid kembali menggeleng.
"Baiklah!" teriak Iblis yang langsung membuat semua orang terdiam. "Lepaskan aku, dan sebagai gantinya, aku akan menceritakan caraku menggoda kalian."
Kiai Dulkamid segera meminta pertimbangan kepada umat yang tengah ramai bersorak-sorai.
"Ya! Setuju! Setuju!"

Kiai Dulkamid melayangkan pandangannya kembali kepada Iblis. "Nah, kalau begitu, segera katakan."
"Pada intinya, aku akan mengeraskan hati kalian. Hati yang keras adalah hati yang mati. Ia pekat dan keras seperti batu. Tak bisa dirasuk air, tak bisa ditembus cahaya."

Orang-orang ternganga dan serentak mendekap dadanya masing-masing seakan takut segumpal darah di dalamnya akan membatu.

"Aku akan mencampur tanah dan air sedemikian rupa hingga menjadi lumpur ladon, lantas memanaskannya hingga menjadi batu. Hati manusia terbuat dari tanah. Air adalah dunia. Kalian sendiri yang mencampur hati kalian dengan dunia." Iblis menyeringai. "Kau lihat lelaki itu?" tanyanya seraya menunjuk seseorang.

Orang itu mengerut takut. Iblis menggerakkan tangannya. "Hanya diperlukan sedikit air untuk meramu tanahnya. Campuran air dalam tubuhnya telah lebih dari cukup karena ia begitu cinta pada dunia."

Orang itu meradang. "Seberapa? Kau ingin mempermalukanku di depan Kiai? Semua orang tahu aku ahli shadaqah."

Semua orang mengernyit mendengar jawaban lelaki itu. Iblis tertawa panjang. "Kaulihat? Itulah air melimpahnya. Ia begitu bangga dengan pujian."
Kia Dulkamid meraup mukanya, turun pada jenggotnya yang rimbun. "Bagaimana dengan yang lain?"
"Yang itu?" tunjuk Iblis lagi. "Ia selalu membanggakan garis keturunannya. Hanya perlu dua mangkok air untuknya. Kalau yang itu malah lebih sedikit lagi."

Satu per satu mulai ditunjuk oleh Iblis. Dan, tak ada satu pun yang memiliki kadar air sedikit. Orang-orang mulai kasak-kusuk tak mengerti. Kiai Dulkamid kembali menatap Iblis. Ia sangat ingin mengetahui kadar air dari seluruh umatnya. Ia ingin tahu seberapa banyak lagi ia harus menanamkan nilai-nilai agama pada mereka.

"Siapkan mangkok sebanyak-banyaknya dan antarkan padaku orangmu satu per satu."
"Kiai, ini ide konyol!"
"Kiai," tukas Iblis, "tentu saja ini adalah tanggung jawabmu. Sebagai seorang penganjur kebenaran, sudah menjadi hakmu untuk mengetahui sejauh mana anjuranmu dilaksanakan oleh orang-orang ini."

Sekali ini, sang kiai nyentrik merasa hatinya masygul. Yang dikatakan oleh Iblis tadi benar. Nyatanya, ia sering merasa tertipu oleh wajah salih seseorang. Ia acap merasa sangat kecewa saat mendapati umatnya telah menipu, melakukan tindakan-tindakan tercela, padahal mereka belum begitu lama keluar dari masjid mendengarkan ceramahnya.

"Kiai! Kiai...!"
Kiai Dulkamid menatap lelaki muda yang begitu dekat dengan dirinya. Paras itu, tentu ia ingat betul, beberapa saat lalu muncul di layar kaca mendukung Inul. Kiai Dulkamid nyaris tak percaya saat itu. Bukankah lelaki ini adalah orang yang ia kenal gemar sekali mendengarkan ceramahnya usai shalat, dan sering dijumpai tengah sibuk berzikir dan shalawat? Mengapa ia malah mendukung goyang Inul dan disebutnya sebagai hak asasi?

Kiai Dulkamid geleng-geleng kepala. Sangat sulit sekarang menemukan hati jujur pada wajah-wajah yang jujur. Ilmu rias wajah yang dilengkapi seni akting telah membaurkan wajah-wajah keruh maksiat itu menjadi berbinar-binar teduh.

Karena semua itu adalah kenyataan yang menyakitkan, Kiai Dulkamid merasa perlu melongok ke hati masing-masing umatnya. Ia ingin tahu seberapa kadar air masing-masing umatnya sehingga dengan mudah ia tahu mana orang yang hatinya masih berpeluang untuk diperbaiki dan mana yang tidak. Dan, itulah yang kini ditawarkan Iblis.

"Tunggu apa lagi, Kiai?" desak Iblis.
Tapi, bukankah hasil dakwah tidak menjadi beban bagi seorang dai? Berhasil tidaknya dakwah tidak mengurangi kadar pahalanya. Tuhan hanya menilai dari keikhlasannya. Itu yang ia dengar dan selama ini berusaha ia maknai.

"Yang ini, Kiai?" desak Iblis lagi seraya menarik orang yang berdiri paling dekat dengannya. "Hanya segini," lanjut Iblis, mengambil dua mangkok air dan mencampurnya dengan tubuh lelaki itu yang kini telah berwarna tanah.

Tiba-tiba, Kiai Dulkamid melihat di depannya onggokan tanah yang basah, dan di situ Iblis mencampur tanah dengan air.

"Bagaimana, Kiai?" tanya Iblis lagi. "Kau ingin melihat seberapa banyak kadar air umatmu, bukan? Karenanya, kau bisa tahu bahwa sesungguhnya kau pun layak untuk diperhitungkan dalam kancah dakwah."
Kiai Dulkamid ingat, bulan lalu sebuah kelompok pengajian membatalkan undangan ceramah untuknya. Ia tahu alasan utama pembatalan itu karena dirinya kalah populer dengan seorang kiai dari kota yang pernah menjabat menteri. Tapi, ia tidak ingin menyesalkan pembatalan yang juga membatalkan janjinya membeli kerudung untuk istrinya. Ini soal uang, dan keikhlasan.

"Kau harus tahu, Kiai," desak Iblis, "dibandingkan kiai berdasi itu, kau lebih berhasil dalam menyeimbangkan kadar air dalam tubuh umatmu. Kau lebih tahu takaran seberapa kadar air yang cukup untuk menumbuhkan biji-biji dalam tanah tanpa harus menjadikannya lumpur yang jika padanya didekatkan api, maka akan mengeras menjadi batu."

Iblis terus mencampur onggokan tanah itu dengan air. "Untuk yang ini, hanya diperlukan segini."
Masygul, kini Kiai Dulkamid turut mencoba mencampur segumpal tanah dengan air. "Yang ini agak lebih banyak."

"Apakah kau berharap menemukan tanah yang kering?"
Kiai terperanjat. "Apa?"
"Tanah yang kering."
"Maksudmu, yang tidak mengandung air? Tanah yang gersang yang padanya tidak ada kehidupan?"
"Tanah yang bila dibakar tidak akan berubah menjadi apa pun," jawab Iblis lagi.

"Itu tanah yang mati. Padanya tinggal dihitung dan ditimbang amal."
Iblis tertawa. Suaranya seperti anak panah yang meluncur memekatkan langit. Kiai Dulkamid ternganga seraya melihat tanah yang dicampurnya dengan air itu kini berubah batu. Dan... ia melihat semuanya telah membatu.

Surau Yang Hilang  

Laporan : Cerpen Pangeran Gunadi


Salma berat mengayun langkah. Malam kian membuncit dan akan terlahir mentari esok hari. Sinar bulan masih menyepuh aspal sepanjang jalan. Pohon-pohon membayang seperti gerak kekar tangan raksasa. Ini perjalanan yang terus berulang. Entah ke berapa ribu kalinya. Hampir setiap malam ia melewati jalan itu.

Seperti hukum alam yang tak dapat dihindarinya. Hanya jalan itulah jarak paling dekat menuju rumah kontrakannya. Di rumah kusut berdinding tembok putih kecokelatan karena debu yang menempel, Salma termenung. Berkali-kali ia mengusap reruntuhan air matanya. Kenangan itu kembali menghampirinya. Ya, waktu itu, dunia ini begitu damai. Suara itu juga masih terngiang jelas di gendang telinganya.

Suara yang memecah kebisuan malam. Alunan merdu yang menyejukkan hati, Alquran. Terbayang jelas wajah pemilik suara itu. Seorang pria tampan dengan kepala terikat rapi sorban putih, Raka. Dialah yang beberapa tahun silam mengajarinya baca Alquran. Dan dia pula yang telah menyentuh dinding hatinya. Tak bisa dibohongi.

Ia jatuh cinta pada Raka. Ketika itu, di suatu malam, di sebuah surau sederhana, untuk yang pertama kalinya Salma merasakan jatuh cinta. Surau itu sudah sepi, hanya Salma dan Raka yang ada di dalamnya. Mereka melantunkan ayat-ayat Alquran. Sering kali Salma mencuri pandang, menatap dalam-dalam wajah Raka. Dan setiap kali pandangan mereka beradu, hanya senyum yang tersungging di bibir masing-masing.

Salma ingin sekali selalu dekat dengan Raka. Semua seperti mimpi. Hilang begitu cepat. Kini semuanya berubah. Bukan lagi ayat-ayat suci yang ia dengar, tetapi dengus yang memacu. Bukan teman-teman yang berkerudung yang ia jumpai, tetapi mereka yang berpakaian setengah telanjang. Bukan dongeng dari kedua orang tuanya yang ia resapi, tapi bualan serta riuhnya musik.

Bukan pula barisan saf yang ia lakukan, tetapi barisan menunggu giliran. Sebenarnya hati Salma berontak dengan pekerjaannya sekarang. Apalagi bila ia ingat kata-kata Raka waktu itu, "Engkau bebas memilih jalan hidup. Tetapi bila pilihanmu salah, maka hidupmu akan jatuh pada kesia-siaan." Andai saja ia bukan korban nafsu pamannya yang berhati iblis, mungkin saat ini ia masih berada di sana. Masih membekas benar peristiwa itu.

Ternyata kepercayaan tak selamanya mengabadikan kebaikan. Uang, pikiran, semua diberikan pamannya ketika itu. Salma tak pernah menyangka kalau pertolongan itu berujung kemaksiatan. Kehormatannya direnggut sang paman. Ia malu, dan ia memilih pergi dari pesantren itu. Pergi menyusuri gelapnya malam.

Hingga kini. Entah sudah berapa lelaki yang menidurinya. Entah berapa hotel yang menjadi saksi bisu perbuatannya. Andai Raka tahu, juga ibunya, pasti ia akan mengutuknya. Embun jatuh membasuh dedaun kering. Dingin merayap. Matahari baru terbangun. Salma duduk bersimpuh. Kelopak bundarnya masih saja berkaca-kaca. Seperti ada sesuatu yang tertahan di dalam sana.

"Matahari! Betapa patuhnya dirimu kepada tugas dari-Nya! Tak pernah kulihat hari tanpa dirimu. Mungkinkah Raka sama dengan dirimu? Aku iri padamu. Kau selalu melintas di jalan yang telah ditetapkan untukmu. Tapi aku? Aku berjalan, dan terus berjalan di tepi jurang.

Berkelana dalam gelimang. Dan terseok dalam kembara tiada ujung." Malam itu Salma tidak pergi. Tidak seperti malam-malam sebelumnya. Hatinya gelisah. Lagi-lagi bayangan wajah Raka melintas di putaran hayalnya. Juga wajah kedua orang tuanya. Bagaimana pun juga ia rindu pada kedua orang tuanya. Sudah kesekian waktu ia tak bertemu. Salma hanya duduk beku di tepi tempat tidurnya. Dipandanginya buku tebal bertuliskan Alquran yang teronggok di atas meja.

Sepintas buku itu nampak seperti kardus usang karena debu. Salma tahu, sudah sekian lama buku malang itu diam tak tersentuh. Diulurkan tangannya untuk meraih buku itu. Mendadak tangannya gemetar. Juga hatinya nanar. Seperti ada ketakutan yang menyeruak di selubung hatinya. Ada rasa malu melihat buku itu. Ada rasa takut bila melihat gurat-gurat hitam yang tertulis indah walau terlihat samar. Niatnya urung.

Ia hanya diam terpaku. Kini bukan matanya yang basah oleh air mata, tetapi hatinya yang resah oleh kekilafannya. Salma bangkit. Meraih diary dan pena murahan di almari berukuran sedang dalam ruangan sempit itu. Ia ingin menulis. Menulis catatan malam, juga dirinya. Ia ingin menulis untuk seseorang, Raka. tubuhku kandas di tepian malam tanpa batas jiwaku kelu dalam cacat waktu, dalam buritan angin setan kusimpan rindu dalam penantian kosong, harapku pun meretas kemarin! syairku kian tertumpah di tepiah sajadah kini, semua terenggut pasrah telah kulumat duka dan dosa serta kubentang dada walau ku tahu Dia bermuram durja tapi aku ingin singgah di serambi sorga Tanpa sadar air matanya meleleh.

Salma menangis tersedu. Apalagi bila ia ingat dirinya kini. "Ya, Tuhan! Masih Engkau terimakah tobatku ini? Atau sudah tidak sepantasnya lagi aku menyebut Asmamu?" Matanya belum juga mau terpejam. Malam terus mengalir. Salma hanya membolak-balikkan tubuhnya. Seperti ada hentakan-hentakan yang mendorong kuat-kuat dalam hatinya. Entah untuk apa. Bertobat? Kembali pada malam? Ia sendiri tidak tahu.

Yang jelas ia rindu kampung halaman. Rindu surau itu, rindu kedua orang yang telah membuat dirinya berada dalam dunia ini, rindu alunan-alunan syair itu, dan, rindu pada Raka. Adzan subuh bergema. Hatinya kian teriris. Mungkinkah Raka masih mempercayainya? Atau sudah menghapus namanya? Ah, tidak. Salma yakin, Raka masih seperti dulu. Penyabar, penyayang, dan, baginya, dialah kebaikan dari semua kebaikan. Kereta itu hanya singgah sesaat.

Lalu pergi lagi meninggalkan asap. Buru-buru ia naik dan mengambil tempat duduk yang nyaman. Salma ingin melabuhkan kenangan dan hayalan bila ia sampai di desanya. Pelan kereta berjalan, kian lama kian kencang. Juga gemeretak rodanya yang membuat bising. Salma memandang lepas ke luar kaca. "Raka, kini aku pulang. Aku kembali pada surau yang kurindukan. Surau yang menjadi saksi cintaku padamu." Satu jam lewat tanpa jejak. Lamunan Salma kian memanjang.

Ia membayangkan setibanya di kampung halaman pasti semuanya sudah berubah. Mungkin surau itu sudah berganti masjid agung yang megah. Juga orang tuanya pasti akan bermandikan tangis. Betapa rindunya ia pada ibunya. Rindu tidur di pangkuannya seperti masa kanak. Dan bau khas jarit batik juga kutang hitam yang sering dipakai ibunya. Semua sulit ia lupakan.

Semua seakan bangkit dan mengaduk-aduk kenangan indah itu. Juga ayahnya yang biasa ia panggil "Bapak", yang selalu mendongeng ketika ia mau tidur. Tentang Sangkuriang, Timun Emas, juga Malin Kundang si anak durhaka. Lalu ia akan terlelap hingga sinar mentari menerobos celah dinding anyaman bambu di rumahnya, ia baru terbangun. Salma tergagap ketika penumpang kereta berebut dan saling mendahului keluar.

Ia baru sadar sudah sampai. Dengan cepat ia meraih tas juga menarik koper beroda bawaannya. Salma tampak berdiri tercengang. Dipandangnya kanan-kiri, semua berubah total. Dulu ketika ia mau pergi, stasiun itu masih sepi. Juga di sampingnya sawah-sawah dengan padi menguning. Tapi kini, deretan rumah-rumah penduduk. Di rumah berbilik bambu itu, kerinduan Salma pada orang tuanya tercurah sudah.

Air matanya seakan terkuras habis. Ternyata sekian tahun itu tidak mengurangi rasa sayang orang tua pada anaknya. Berbagai pertanyaan memberondong Salma. Di manakah selama ini ia berada, dengan siapa, dan, bekerja di mana. Salma hanya menjawab datar dengan menggigit bibir karena sejuta kebohongannya. Ia tidak mau kedua orang tuanya tahu tentang semuanya.

Kini tinggal satu kerinduan yang belum tertumpah, pada Raka. Senja yang cerah itu akhirnya mengantarkan langkah Salma ke sebuah tempat. Surau itu. Tapi ia kaget, tak ada lagi surau itu, melainkan masjid besar berdinding keramik mengkilap. Salma berjalan pelan memasuki halaman masjid. Didengarnya sayup-sayup anak-anak sedang pengajian.

Dan dari serambi ia melihat di antara anak-anak itu ada seorang laki-laki berbaju putih juga sorban. Ia sedang membimbing anak-anak itu. "Raka. Ya, dia Raka," batinnya. "Asalamuallaikum," suara Salma. "Wa'allaikumsalam." Terdengar suara tenang tapi sangat jelas. Pandangan mereka pun beradu. Antara percaya dan tidak, Salma menatap lekat wajah Raka. Begitu pun sebaliknya. "Raka." "Salma." Sejenak mereka saling membisu. Salma melangkah, menapaki karpet merah yang membentang di ruangan luas itu.

"Salma, akhirnya kau kembali. Bagaimana kabarmu selama ini? Mengapa tidak pernah kirim kabar berita?" Setumpuk pertanyaan keluar dari mulut Raka. Sama seperti ibu dan ayahnya. Hanya saja, Raka lebih tahu tentang semua yang Salma alami. Lalu keduanya larut pada kenangan masa itu. Bergegas mereka menuju halaman masjid yang lumayan luas. Meninggalkan suara polos anak-anak di dalamnya. "Raka, hari ini aku kembali.

Kembali padamu. Masihkah terbuka pintu hatimu untukku yang hina ini? Aku mencintaimu, Raka. Tapi aku juga tahu siapa diriku sekarang. Aku tak banyak berharap padamu. Tapi aku mohon, ijinkan aku untuk mencintaimu. Ijinkan aku punya sebuah harapan. Walau harapan itu hanya sebuah harapan yang takkan pernah terwujud." Kata-kata itu tak mampu diucapkan Salma.

Ia hanya medesis dalam hati. Ingin rasanya Salma diam dalam dekapan pria yang dicintainya itu. Tetapi itu tak mungkin. Ini lingkungan masjid. Bagaimanapun juga ia tak mau mengotori tempat suci itu dengan ambisi hatinya. Seperti gemuruh di dada Salma. Ingin ia ceritakan semuanya dengan gamblang.

Bagaimana ia terpaksa terjun ke lembah nista. Lagi-lagi Salma tak mampu mengucapkannya. Andai bisa tertumpah, itu hanya beberapa tetesan bening dari balik sungai di sudut waktu. "Aku takut mengatakannya, juga takdirku sebagai wanita yang membuatku riskan untuk berterus terang. Tapi hari ini aku akan mengatakannya.

Di sini. Entah itu pantas atau tidak. Aku mencintaimu, Raka" "Aku tahu. Aku tak berhak melarangmu untuk mencintai seseorang. Juga diriku. Bukankah cinta itu indah bila di dalamnya ada makna? Tapi tidakkah kamu tahu, Salma, aku bukan Raka yang dulu. Kau lihat anak itu, dia anakku. Roda waktu telah memutar hidupku.

" "Oh...!" Hanya itu suara yang keluar lirih dari Salma. Bibirnya bergetar. Kerongkongannya seakan terganjal. Ia menatap wajah Raka di depannya. Dan membuang pandangannya ke langit di luar sana. Ia mendapati sebuah anak layang-layang yang putus lalu hilang terbawa angin. Jauh.n Jakarta, September 2003 Buat Intan R