Sastra
Thursday, December 18, 2003

Mata dan Hatiku 

::by me::

Kala mataku terbuka,
Hatiku terpukau olehnya
namun kala terpejam
hatiku melanglang buana padanya

wahai angin,
sanggupkah engkau mendinginkannya?
bara terpendam yang tak pernah padam ini

satu dasawarsa telah terlewati
kutak mengerti lagi
mengapa begitu keras hati ini
bermilyar-milyar pasang mata telah ia tatapi
dan...
hanya sepasang mata itu yang sanggup menaklukkannya
sepasang mata yang selalu membangkitkan rasa rindunya

Ah...andai saja,
ia boleh berkata-kata...
namun ia pun tak bisa berkata-kata,

berbagai kecamuk selalu menghantam pikirannya
sepasang mata itu tlah menguasainya
sepasang mata pembawa kasih sejati buatnya

namun selalu terkunci
ia meniupkan hawa pemberontakan,
ia menggugah, mengobarkan api..
tapi di detik yang lain,
ia mengunci mulut dan membekukan lidah ini

Sayangnya,
kini hatiku sudah tak percaya diri seperti dulu lagi
ingin berharap menemui pemiliknya? ah...
apa masih mungkin?

hanya lantunan doa yang selalu terpanjat..
tiap kali teringat dan tiap kali wajah itu terwujud dalam mimpinya

walau tak bisa memilikinya,
semoga masih ada sepasang mata yang serupa
yang bisa menerimanya sepenuh hati,
dan sepasang mata yang mau berbagi kasih sayang dengannya

lalu ia berjanji,
akan kucurahkan sepenuhnya pada sepasang mata itu
segala kasih sayang yang kumiliki,
sebagai persembahan terbaik untuknya

Braunschweig, Winter 2003 edited febr 04