Rumah Kuburan
Minggu, 04 Januari 2004
Cerpen Merriem Anjelina
Laporan : Irwan Gunadi, Anggota Dewan Juri KSI Award 2003
Rumah kuburan! Sebutan itulah yang menjadi nama rumah Bah Siek, tetangga tepat di sebelah kiri rumahku. Rumah itu besar, luas, terdiri dari tiga rumah yang tidak disekat sehingga menjadi satu rumah yang sangat besar dengan bangunan gaya arsitektur China -- model rumah tempo doeloe yang biasanya hanya kulihat di buku pelajaran sejarah milik kakak perempuanku yang duduk di kelas lima sekolah dasar.
Entah siapa yang mula-mula menjuluki rumah itu sebagai rumah kuburan. Yang aku tahu, Bah Siek tidak pernah merasa terganggu dengan sebutan itu, meskipun bagi orang lain sebutan seperti itu sangat tidak menguntungkan!. Kadang-kadang aku marah padanya, mengapa dia tidak memprotes orang-orang yang telah menyebut rumahnya sebagai rumah kuburan. Jawabannya ternyata di luar dugaanku, "Biar saja, semakin mereka takut, semakin rumahku aman."
Awalnya aku tidak memahaminya, karena aku hanyalah gadis kecil yang baru berusia enam tahun! Aku masih kelas nol besar! Cara berpikirku tentu terbatas. Namun, akhirnya aku tahu juga jawabannya mengapa Bah Siek justru merasa beruntung punya rumah kuburan.
Setiap orang yang akan melewati rumahnya, baik siang hari apalagi malam hari, selalu berlari sipat kuping saat melewati rumahnya, dan itu dilakukan baik berjalan sendirian maupun berjalan berombongan. Aku suka tertawa sendiri melihat kelakuan mereka, karena biasanya mereka terdengar masih bersendau gurau, namun begitu menyadari telah berada diujung rumahku semua mengambil ancang-ancang untuk berlomba lari sekencang-kencangnya dengan berteriak, "Huweeee kuburaaaan!" kemudian disusul suara gedebag-gedebug sandal jepit berpacu beramai ramai-riuh rendah.
Di malam hari, rombongan penakut itu akan lebih takut lagi bila tiba-tiba mereka melihat Bah Siek dengan kacamata model John Lenon, tiba-tiba muncul, lalu berdiri diam memaku di antara rimbunan pepohonan depan rumahnya yang gelap, dan hanya pancaran kilauan sinar kaca matanya yang sesekali clap-clap seperti kilatan blitz! Bisa diduga, lari mereka bertambah kencang saja sambil berteriak, "Huweee suetuaaan!" Bila sudah begini, aku yang sakit perut menahan tawa.
Pelari rombongan ini bermacam-macam. Kadang-kadang orang tua seusia ayahku. Kadang-kadang kakak kelasku di sekolah dasar depan rumahku. Namun, yang membuatku heran, tetangga jauhku yang pulang dari mengaji pun lari tunggang langgang seperti lainnya bila melewati rumah kuburan itu. Mengapa mereka tidak membaca doa agar tidak takut? Mereka seperti yang lain -- semua pasti lari! Semua ketakutan, kecuali aku!
Aku tidak pernah tahu nama lengkap manusia aneh penghuni rumah itu. Menurut selentingan, sebagaimana tertulis dengan huruf Cina di atas pintu utama rumahnya, namanya Dje Bian Siek. Aku tidak pernah tahu kebenarannya. Yang aku tahu sejak belum sekolah aku telah bersahabat karib dengan Bah Siek yang usianya sekitar delapan puluhan.
Bagiku Bah Siek orang yang baik hati, penyayang, kaya, namun sekaligus kikir luar biasa. Sejak aku mengenalnya, Bah Siek sudah hidup sendirian. Konon pernah menikah, namun kemudian istrinya meninggal dunia, dan Bah Siek tidak pernah menikah lagi. Dia memilih hidup membujang, sendirian di rumahnya yang sangat besar dan bagi orang yang tidak mengenal secara dekat, Bah Siek terkesan aneh. Dia kaya, namun penampilannya sangat sederhana, bahkan sering berpakaian compang-camping.
Bila tidak ada saudaranya yang datang berkunjung, Bah Siek selalu berkunjung ke rumahku, biasanya pada malam hari sesudah Isya. Namun, tidak seperti tamu biasa, dia tidak duduk di kursi, melainkan berdiri di atas kursi batu di luar pagar depan rumahku, berdiri menghadap ke rumahku, seperti berdiri di atas mimbar. Tanpa basa basi, ia pun mulai bercerita panjang lebar, tentang apa saja, dan dengar suara keras, sambil tangannya berayun kesana kemari, bergoyang, menuding, mengacung bak seorang dirigen orchestra. Namun, pada kali lain, ia bagai seorang dalang pewayangan, bercerita hingga merasa capai.
Aku sering menyebut rumahnya seperti Candi Borobudur. Di usiaku yang masih sangat kecil, aku belum pernah melihat Candi Borobudur, selain dari cerita sejarah dan foto di kalender. Namun aku cukup yakin, rumah Bah Siek memang mirip Candi Borobudur. Rumah Bah Siek terbuat dari batu-batu kali sebesar kelapa, disusun tanpa semen, benar-benar tanpa semen! Hanya disusun rapat, selebar tigapuluh sentimeter, tinggi satu meter, kemudian selebihnya terus keatas terdiri dari dinding kayu, dan beratap genting biasa. Entah bagaimana, bangunan tersebut kuat dan kokoh, tidak miring, tidak ambruk. Atap rumahnya berbentuk segitiga berjajar tiga, dengan ukiran gaya Cina.
Halaman rumah itu sangat luas, dipenuhi aneka tanaman buah buahan -- berjenis jenis pohon mangga, srikaya, uwi, sirsak, duwet, kelapa dan pisang. Ada juga pohon asam berusia puluhan tahun, namun buahnya masih sangat lebat. Di belakang rumahnya ada juga bunga melati. Bila tiba saat musim berbunga, baunya semerbak harum mewangi sampai ke ruang tidurku. Bila pagi menjelang, sebelum berangkat ke sekolah, aku selalu menyempatkan untuk menyeberang kesamping rumah Bah Siek, memetik beberapa kuntum dan menikmati indahnya hamparan putih bunga melati yang sedang mekar seperti lautan salju -- indah sekali.
Aku sering bernyanyi sambil menari di tengah lautan bunga melati yang indah itu, "jari dan jempol tangan digoyang..." dan aku berjingkrak, menggoyang-goyangkan tangan dan pinggulku dengan genitnya, dan penonton setia ku hanya satu orang: Bah Siek! Selesai menari dan bernyanyi, Bah Siek selalu bertepuk tangan memuji tarian dan suaraku yang tak seberapa merdu.
Bila musim buah mangga tiba, Bah Siek selalu menyisihkan khusus untukku buah mangga yang masak di pohon! Setiap pulang sekolah, aku dipanggilnya untuk memanen buah asam yang sudah matang dan berjatuhan terkena tiupan angin. Aku mengambilnya dengan keranjang buah. Begitu angin bertiup kencang, kami bersorak kegirangan berlomba memungut buah asam yang berjatuhan seperti hujan, berserakan di antara kuburan yang berjajar jajar di halaman depan rumah Bah Siek!
Bentuk kuburan itu bermacam-macam. Ada yang panjang seukuran orang dewasa, ada yang pendek seperti kuburan anak kecil. Nisannya pun berbeda-beda. Ada yang seperti nisan pada umumnya, ada yang berbentuk kepala manusia raksasa setinggi dadaku menyerupai arca, ada yang bermuka bulat dengan wajah tersenyum simpul, ada yang berwajah oval menyeringai. Namun, di antara kuburan itu ada yang ukurannya amat pendek, nisannya pun bukan nisan biasa, melainkan pohon asam. "Kuburan-kuburan itu aku yang membuatnya! Untuk mengamankan buah asam!" kata Bah Siek.
Dan, begitulah, bagi orang-orang dari luar kampungku, dan pelari rombongan, terutama malam hari, suasana halaman rumah Bah Siek memang terkesan angker. Sebab itu pula Bah Siek sama sekali tidak keberatan rumahnya disebut rumah kuburan.
Selama persahabatanku dengan Bah Siek, tidak pernah sekalipun dia marah padaku, sampai suatu kali sepulang sekolah, aku tidak menemukan Bah Siek. Ternyata Bah Siek pergi ke luar kota untuk suatu urusan. Aku kecewa karena sehari sebelumnya tidak diberitahu bahwa dia akan berkunjung ke luar kota sehingga aku merasa tidak ada hiburan -- kesepian. Diam-diam aku pergi ke dapur. Aku pernah mendengar Bah Siek bercerita kepada ibuku agar jangan sekali-kali melukai pohon mangga dengan terasi.
Siang itu aku ingin membuktikannya. Aku ambil terasi dari dapur dan pisau. Aku lukai pohon mangga yang lebat buahnya itu, dan kemudian kuolesi dengan sedikit terasi. Esok harinya mangga muda yang sedang melebat itu berjatuhan! Entah mengapa Bah Siek langsung tahu bahwa aku pelakunya! Bah Siek marah! Sejak itu Bah Siek merahasiakan bila akan panen mangga. Mangga masak pohon tidak pernah lagi diberikan kepadaku akibat.
Namun, perseteruanku tidak pernah berlangsung lama. Bagiku Bah Siek seperti multi vitamin. Bila tidak bernafsu makan, aku berkunjung ke rumahnya saat dia makan siang. Makannya selalu lahap dan mengundang selera siapa saja untuk ikut merasa lapar. Sayur yang dimakannya setiap hari adalah pemberian ibuku. Sekalipun banyak uang ia tetap kikir. Bila punya lauk sedikit saja, biasanya baru habis setelah seminggu karena lauk tersebut hanya dipajang di depan piring nasinya untuk pembangkit selera, dan hanya diambil sesenti demi sesenti setiap kali makan. Selebihnya hanya nasi, sambel dan sayur dari ibuku. Namun cara makannya terlihat nikmat luar biasa. Bila sudah melihatnya makan, nafsu makanku bangkit kembali dan aku bisa makan lahap seperti Bah Siek.
Ketika beranjak dewasa, aku melanjutkan ke perguruan tinggi di kota lain. Seminggu sebelum aku berangkat, kulihat Bah Siek menerima kiriman dari luar kota. Sebuah peti mati! Bah Siek tidak pernah menjawab pertanyaanku untuk siapa peti mati itu. Semenjak aku menjadi mahasiswi, aku jarang berbincang lagi dengannya karena waktuku pulang ke kampung hanya sebentar, dan seiring usianya yang mulai renta, Bah Siek sering diajak saudaranya istrirahat ke luar kota.
Tepat seminggu sebelum hari wisudaku, ayahku menyuratiku, bahwa sahabat terbaikku semasa kecil sudah tiada. Tak terasa aku menangis, teringat betapa Bah Siek dengan tegar mempersiapkan peti mati untuk dirinya, teringat masa indah bersahabat dengan orang setua kakekku namun bisa menyelami dan berlaku sebagai sahabat kecilku yang terbaik.
Ketika menghadiri reuni teman semasa kecil di kotaku, aku bersikukuh untuk tidak mengunjungi rumah Bah Siek. Aku tidak mau merusak kenangan indah saat aku masih gadis kecil yang lucu, karena rumah Bah Siek telah berubah fungsi menjadi areal parkir mobil! Taman bunga melatiku yang kukagumi dulu, tempat aku menyanyi dan menari di tengahnya, telah hilang tak berbekas. Jajaran kuburan dengan bermacam-macam nisan kebanggaan Bah Siek pun kini musnah sudah. Alangkah sedihnya!
Jakarta, 23 Nopember 2003