Sajak-sajak Abdul Wachid BS
RUMAH KOSONG
berkali memanggil suara itu
mestikah kumasuki pintumu?
rumah kosong
burung jiwa terlepas
melintas jendela
mencari nama bagi dadanya sendiri
sampai sarang langit mesti dipindah
di tiang rumah
dari ruangan itu memancar lampu menyinari tubuhku yang telah lama inginkan berlumpur kubur yang mana sahabat aneh itu memanggil bagai genta kuil megah dan mengerikan lalu aku berulangkali melingkari mencari jendela atau pintu agar ruhku tiduran sebentar di dalamnya
tetapi
o, jarum-jarum hujan kota yang tak ramah keburu menusukkan racunnya yang keramat
YANG BERTANYA DALAM MALAM
berkali lagikah mesti kujeritkan namamu
agar memancar wajahmu dari hadapan
dan o, tatapanmu ungu membatu
begitu dingin dan dalam
sia-sia kulayarkan sangsiku dalam matamu
dalam keheningan harum malam
dan mestikah kembali kurusak susunan cahaya?
sebelum matahari baru menyembul dari hati
begitu megah dalam gairah
sia-sia kulayarkan pertanyaanku dalam malammu
berkali lagikah aku mesti menjeritkan nama-nama
sepanjang perjalanan terkejut
manusia pergi, manusia kagetan
melukisi kembali impian pelangi di tengah jalan raya
sambil menepuki dada dan kepala
sia-sia kulayarkan pertanyaan sangsiku
dalam mata malammu!
ALAM HATI
Dalam jejak harum malam tubuhmu yang bulan
Pohon-pohon musim bertumbuhan
Sebagai bayi yang lahir dari rahim bumi dan langit
Atas daun dan buahnya yang abadi
Matahari malam menabuh genta-genta cinta
Lalu menyulut api rohani
Dalam harum malam tubuhmu yang bulan, o jiwa!
Membuka kening dan dadamu sebagai gerbang langit
Membuka jantung dan hatimu sebagai pintu taman
Di situ terbentang alam baru yang
Megah dan menghanyutkan
Dibentengi tembok-tembok tinggi hingga ke malam
Petamanan itu dikucuri cahaya rembulan
Diberkahi nyanyian gadis-gadis penuh kemurnian
O, kebun batin!
Telah menyingkap tirai rahasianya
Matahari malam memancar
Dalam malam yang bulan
Dalam tubuhmu
Kini tak ada lagi kota yang menyileti jiwa
Tak ada si pencuri api bumi
Lalu jantung duniamu terbaring
Tak ada segala dan semuamu
Engkau telah terbaring di hati mutiara
Kemudian bangun sebagai
Manusia