Perempuan yang Menembus Gerimis
Minggu, 14 Desember 2003
Cerpen Iyut Fitra
Entah mengapa, setiap gerimis tiba, perempuan itu akan memandang jauh ke luar jendela. Lalu tidak lama setelahnya beranjak meninggalkan rumah, berjalan menyusuri trotoar, sendiri, entah ke mana.
Begitu selalu, sampai barangkali orang-orang sudah biasa melihat dan bahkan mungkin telah lama tidak peduli pada kristal-kristal bening yang terus melelehi rambut, pipi dan tubuhnya.
Selalu, (barangkali tidak malam hari) pada akhirnya perempuan itu akan menuju pantai. Duduk di sebuah bangku-bangku, dan memesan segelas susu panas. Maka terhamparlah laut yang begitu luas. Laut yang kadang tenang dengan segala kesenyapan. Laut yang kadang bergelora penuh rahasia. Dan ombak yang senantiasa pecah di bibir pantai meninggalkan serpih-serpih buih yang akhirnya pudar pelan-pelan.
Gerimis yang terus. Pakaian perempuan itu melembab, atau telah basah kuyup. Tetapi ia senantiasa larut dalam keterpanaan. Seolah-olah laut yang begitu luas, dalam kehampaan pandang matanya seakan kosong saja.
Pada satu waktu yang lalu, segala sesuatu bagi perempuan itu sangatlah indah. Hidup penuh makna. Hidup begitu sempurna. Dan hari-hari yang lewat, musim yang bertukar serta kalender yang terus berganti baginya bagaikan ayunan kecil masa kanak-kanak. Begitu membuai. Begitu lena.
"Aku suka pantai. Maukah engkau tinggal bersamaku di sana? Di sebuah rumah kecil, di mana dari berandanya kita dapat melihat matahari terbenam," ucap laki-laki jangkung berambut pirang itu kepadanya.
Amelia. Perempuan itu terkejut saat ombak menghempas bebatuan sangat keras dan besar sekali. Ia gigit bibirnya. Ada kepedihan tertahan. Tiba-tiba matanya terasa panas. Dan tanpa ia sadari dua tetes bening telah mengalir dari sudut matanya.
Susu panas yang hampir dingin. Seekor camar menukik menyambar ikan. Gerimis turun seakan tungkai langit yang panjang. Sesekali ada kilat mengelebat. Cuaca begitu menusuk sum-sum, tapi Amelia, perempuan itu, terus menatap ke arah pantai, atau mungkin ke tengah laut.
Matanya yang bundar terlihat kosong. Rambutnya yang hitam seolah kusam. Tubuhnya yang sempurna seolah terbungkus oleh satu kesepian yang teramat sangat.
"Bulan depan aku pulang ke London. Perusahaan memintaku untuk menyelesaikan sebuah urusan di sana. Mumpung punya kesempatan, sekaligus aku ingin minta restu pada keluarga, lalu kembali lagi ke sini untuk hidup bersamamu. Selamanya. Ya, selamanya!" Laki-laki itu, Martin, bule yang bekerja di perusahaan barang antik, mencubit hidung Amelia.
Mereka berkenalan di sebuah galeri dekat tepi pantai ketika sama-sama memilih souvenir. Barangkali satu kekuatan gaiblah yang membuat mereka tiba-tiba mengulurkan tangan. Bersalaman, kemudian larut dalam pertemuan demi pertemuan.
Dan, terbagilah diri. Menjadi sisi-sisi yang satu sama lain saling ingin mengerti dan saling ingin menyelami. Pertemuan yang berulang-ulang. Pertemuan yang begitu saja menjadi kebutuhan. Ombak menghempas lagi. Lebih keras dari yang tadi. Menyerbu batu-batu tepi pantai, dan juga, mungkin menyerbu hati Amelia yang keruh.
Setelah Martin kembali, impian itu benar-benar terwujudkan. Mereka tinggal bersama. Di sebuah rumah kecil sederhana. Yang berandanya menghadap ke laut. Yang tidak berapa jauh jaraknya dari pantai. Yang mana mereka dapat melihat matahari tenggelam setiap senja.
Di beranda rumah kecil sederhana itu, apabila hujan turun, atau gerimis jatuh menerpa bumi, mereka duduk berdua di sana sepuasnya. Sepuas-puasnya. Selalu ada segelas kopi panas untuk Martin. Selalu ada segelas susu panas untuk Amelia. Mereka bercanda. Tertawa. Dan juga bercinta.
"Aku mencintaimu, Amelia!"
"Aku juga merasakannya, Martin!"
Kemudian, selalu saja waktu lewat. Musim tukar-tukaran, kalender gugur, matahari dan bulan bergantian. Tidak lama setelahnya seorang bocah kecil hadir memperindah kehidupan mereka.
Bunga! Si kecil yang imut. Yang manja. Yang nakal. Yang menggemaskan hari-hari mereka berdua. Yang selalu suka merajuk dan memaksa. "Bunda, Bunda, kita ke pantai yuk. Ajak Papa dong, Bunda!" Lalu menarik-narik lengan atau ujung baju Amelia. "Gerimis masih tebal, Bunga. Nanti kamu sakit!" Amelia mencoba memberi alasan.
"Bunga mau menangkap kerang! Bunga mau bermain pasir!"
"Tapi nanti kalau cuaca sudah baik."
"Bunga mau sekarang!"
Amelia melirik Martin. Keduanya tersenyum. Lalu sepakat saja beranjak meninggalkan rumah, memenuhi keinginan Bunga, menyusuri trotoar, menuju pantai yang tidak berapa jauh.
Di pantai itu Bunga berlari-lari mengejar kerang. Melompat-lompat kegirangan. Menumpuk-numpuk pasir lalu merubuhkannya kembali. Sampai senja. Sampai matahari tenggelam. Atau kadang sampai gerimis tak jua kunjung reda. Sementra itu Amelia dan Martin duduk di bangku-bangku dengan penuh geletar bahagia, dengan jemari bergenggaman.
"Ibuku ingin bertemu Bunga," ucap Martin tanpa mengalihkan pandangan.
"O, ya?" Amelia bertanya antusias.
"Kalau bisa cuti, tahun depan kita ke London. Bukankah kamu juga belum pernah bertemu mertua."Amelia mengangguk-angguk girang. Dipereratnya genggaman. Alangkah sejuk hatinya membayangkan pulang ke rumah suaminya yang selama ini hanya ada dalam angan-angannya.
"Bunga! Bunga, ke sini!" teriak Amelia tiba-tiba.
Bunga berlari seraya melompat-lompat menuju mereka. Seekor kerang kecil ada di tangannya. Sementara tubuhnya sudah berlepotan pasir dan air."Bunga rindu nggak ketemu Oma dan Opa?""Iya.
Bunga sering bermimpi bertemu mereka. Bunga dibeliin coklat sama Opa. Terus kalau malam hari, kalau Bunga mau tidur, Bunga didongengin tentang Putri Salju oleh Oma. Kapan kita ke sana, Bunda? Kapan, Papa...?" jawab Bunga lugu dan centil sekali.
"Kalau Bunga mau bertemu Opa dan Oma, Bunga tidak boleh nakal, tidak boleh sering main hujan, dan tidak boleh sakit. Sekarang, saatnya untuk pulang ya sayang!"
Bunga terpaksa menurut meski sebenarnya enggan hatinya. Gerimis makin memanjang. Pandangan terselubung kabut. Pantai itu pun mereka tinggalkan. Pantai yang setia mengisi kehidupan mereka.
Tapi hidup tak lebih dari rencana, mimpi, khayalan dan harapan. Amelia sangat tahu itu. Tak satu pun yang dapat dipastikan selain apa yang di atas kekuasaan Tuhan. Rencana ditata namun kadang runtuh seketika. Mimpi datang dan lenyap tak dinyana.
Khayalan yang begitu indah sekalipun juga bisa hancur dalam sekejap saja. Dan harapan, harapan kerap sekali hanya bermuara pada sia-sia. Ah, betapa nisbinya! Amelia memahami setiap gejala dan peristiwa alam itu. Namun saat ia yang diterpa, Amelia seperti tidak percaya dan sontak tak terkira.
Siang yang hening. Damai. Kehidupan berputar sebagaimana mestinya. Satu siklus yang terus bergasing dalam putaran roda kekuasaan Tuhan. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba sebuah ledakan keras terdengar seolah membelah langit dan udara.
Kota seperti terguncang. Api berkobar besar melalap sebuah plaza dan gedung-gedung sekitarnya. Amelia terlambung. Panik. Ia ingat kalau tadi malam Martin dan Bunga berjanji akan ke plaza itu untuk membeli boneka. Amelia berlari ke beranda, berharap mereka masih ada di sana. Berlari ke luar pagar.
"Bunga! Bunga! Martin...."Amelia berlari ke rumah tetangga seraya terus menjerit dan memanggil-manggil. Ke jalan. Ke pantai."Bunga! Bunga! Martin...."Tapi Martin dan Bunga tidak ada. Seluruh tubuh Amelia seperti tersengat arus listrik.
Tanpa sadar ia berlari kencang menuju plaza yang terbakar itu. Ia lihat orang-orang berlarian lalu-lalang, panik, penuh teriakan. Ia lihat petugas dengan sangat cepat telah memblokir jalan-jalan. Amelia tercegat langkahnya. Pelan-pelan plaza itu beruntuhan. Pelan-pelan habis dilalap api.
"Ada bom meledak!" lamat-lamat ia dengar kalimat itu, kemudian Amelia tersungkur pingsan, entah untuk berapa lama. Hari makin senja. Ombak terus menghempas. Perempuan itu terus menatap kosong ke tengah laut. Seribu jarum seolah-olah tengah berserbuan merujam hatinya. Mencabik-cabik jantungnya.
"Bunda! Bunda, kita ke pantai yuk. Ajak Papa dong, Bunda!"Tikaman itu semakin tajam. Meruyak hidup yang pernah damai. Meluluh-lantakkan impian-impian yang belum terwujudkan. Dirinya serasa hangus. Serasa ikut rubuh bersama gedung-gedung yang tinggal puing.
Maka semenjak itu, Amelia tidak pernah lagi ke luar rumah. Hanya mengurung diri. Kecuali setiap gerimis tiba. Perempuan itu akan memandang jauh ke luar jendela. Lalu tidak lama setelahnya beranjak meninggalkan rumah, berjalan menyusuri trotoar, sendiri, entah ke mana.
"Bunda! Bunda, kita ke pantai yuk. Ajak Papa dong, Bunda!"Hanya kalimat itu saja yang terus-terusan menghantam pikirannya. Perih. Pedih. Dan betapa ngilu!
Padang-Payakumbuh, November 2002