Sastra
Wednesday, January 14, 2004

SAJADAH EMAK 

Penulis:M. Arman AZ

Langkah Amin berakhir di depan sebuah foto. Sambil mengusap ingus yang meleleh dengan lengan baju sebelah kiri, kepalanya mendongkak. Ia meneliti barang-barang yang terpajang di rak. “Ah, masih ada di situ,” katanya dalam hati. Lega. Ia berharap semoga tak ada yang mendahuluinya. Mungkin, dua atau tiga hari lagi uangnya baru cukup untuk membayar benda itu.

Sajadah beludru. Hijau tua warnanya. Dihiasi gambar masjid megah, dan seruas jalan panjang menuju pintu masjid. Alangkah indah. Benda itulah yang dua minggu belakangan kerap singgah di benak Amin.
Amin tersentak. Jerit klakson sebuah mobil sedan yang mau parkir membuyarkan lamunannya. Bagai anjing geladak di usir kelasi, bocah itu kembali menyeret langkah. Masih sempat didengarnya pengendara mobil mengumpat kesal. Amin tahu, makian itu ditujukan padanya. Ia tak punya nyali untuk menoleh. Kepalanya tetap merunduk dan terus saja berjalan. Seorang pelayan toko mengamati sosok yang menjauh itu dengan pandangan menyelidik.
***

Jalanan melepuh oleh terik matahari. Pasar hiruk pikuk. Semrawut. Sampah-sampah menari gelisah dibawa angin. Comberan meruapkan bau busuk. Tapi Amin tak merasakannya sama sekali. Ia masih di sana, menyusuri trotoar demi trotoar. Pikirannya di kepung gelisah.

Kenapa waktu berputar seperti gasing? Kenapa hidup sulit diajak kompromi? Amin risau. Lima hari lagi ulang tahun Emak dan sajadah itu masih terpajang di toko. Melambai. Merayu anak kecil itu. Sekian lama menyisihkan uang, belum juga cukup untuk membelinya. Sebagian sudah diminta Emak untuk mengasapi dapur dan membayar ini-itu. Amin tak tega menolaknya

Amin sadar. Keluarganya kere. Mustahil meniru bocah selebritis yang santai melepas puluhan juta terbang untuk merayakan pesta ulang tahun di hotel mewah. Ia tersenyum getir. Tapi, walau sudah nasib, toh tak ada salahnya emak mengecap secuil kebahagiaan. Dan untuk ulang tahunnya kali ini, Amin ingin memberi Emak hadiah kejutan. Sebuah sajadah baru. Sederhana, tapi penuh makna.
Sajadah di rumah sudah tak layak pakai. Tipis digerus usia. Banyak jahitannya yang tanggal. Bahkan, Amin pernah memergoki Emak salat beralas tikar. Sedih sekali melihatnya.

Ya, ulang tahun Emak. Saat yang tepat untuk memberi sajadah baru. Amin pun mendambakan saat-saat nan indah itu. Emak tegak di atas sajadah. Keningnya mendarat mulus di beludru halus. Mendengar ayat-ayat Al Quran terlantun syahdu dari mulut Emak di tengah malam yang hening. Ditemani sajadah hasil keringatnya.
***

Senja. Pulang nyemir di pasar, Amin mendapati Emak rebah di kursi tamu. Ia merasa ada yang tak beres. Kenapa Emak melengos waktu ia mengucap salam? Sekilas sempat dipergoki mata Emak. Sembab. Ada lebam biru samar di bawah mata kirinya. Amin bergegas meletakkan kotak semir ke dalam kamar, kemudian menyambangi Emak.

“Ada apa, Mak? Kenapa nangis?” beruntun tanya Amin. Ia duduk di sebelah Emak. Bahasa tubuhnya menyiratkan kekhawatiran. Jemarinya berusaha menggapai pipi emak, tapi perempuan itu sigap menepisnya.

“Ah, nggak apa-apa. Cuma kepeleset waktu mau ke kamar mandi,” singkat jawab Emak. Dielusnya kepala Amin sambil menyuruh anak tunggalnya itu mandi.

Amin menarik nafas. Ia memang masih kecil, tapi nalurinya terasah di jalanan. Instingnya menyimpulkan bahwa sesuatu telah terjadi di rumah ini, dan Emak berusaha menyembunyikannya. Pandangan Amin beredar mengamati ruangan. Menebak apa yang mungkin saja terjadi sewaktu ia pergi.

“Bapak tadi pulang, ya, Mak?!” celetuk Amin tiba-tiba. Nadanya gamang. Entah apa yang berkelebat di benak Amin, hingga kalimat itu melompat dari mulutnya. Kali ini, sorot mata Amin menagih jawaban jujur. Emak gugup dan salah tingkah melihat cara anaknya menatap.

Bungkam Emak cukup jadi jawaban buat Amin. Pasti, Bapak barusan pulang ke rumah. Lalu, seperti biasa, Bapak merayu Emak agar memberinya uang. Lelaki itu paling lihai membuat alasan. Untuk fotokopi berkaslah, untuk menyogok kepala personalialah, untuk ongkoslah. Padahal semuanya muslihat belaka. Selama ini, Amin tak pernah mengadu pada Emak siapa yang kerap dipergokinya di gardu reot dekat pasar. Bapak! Ya, Bapak. Mata Amin belum buta. Bayangan itu masih jelas di benaknya. Bapak yang membanting-banting kartu di antara kerumunan orang. Wajahnya kelewat tegang, hingga tak sempat lagi memergoki Amin yang kebetulan melintas di dekatnya.

Kasihan Emak. Ia sudah terlalu sering mengalah. Pernah sekali waktu, ketika Bapak minta uang banyak Emak menentang habis-habisan. Tak ada uang lagi, tolaknya. Mereka butuh beras, lauk-pauk, bayar listrik, dan mencicil hutang di warung Bu Hamid. Bapak yang syaraf-syarafnya ditunggangi alkohol malah mengobral sumpah. Isi rumah di obrak-abrik. Apalagi waktu menemukan beberapa lembar uang di bawah kasur, genap sudah amarahnya. Emak ditampar berkali-kali, lalu ditingalkan begitu saja.
***

Amin terjaga dari tidur. Ia mendengar isak tertahan di ruang tamu. Perlahan sekali ia bangkit dari ranjang. Mengintip keluar kamar. Amin tertegun melihat pemandangan itu. Emak sedang bersimpuh di atas sajadah. Pandangannya menembus langit-langit rumah. Meraba-raba dalam gelap. Mencari-cari Tuhan.

Amin menelan ludah. Getir. Hari ini, tambah satu usia Emak. Tak ada balon warna-warni, kue tart, atau acara tiup lilin. Dini hari yang hening. Emak memulainya dengan salat tahajud.

Ah, Emak, Emak. Empat puluh lima tahun umurnya kini. Bukan waktu yang singkat untuk mengarungi samudera kehidupan. Badai dan riak ombak datang silih berganti. Emak menghadapinya penuh ketabahan. Dari beliaulah Amin belajar gagah menghadapi hidup.

“Jangan sedih dan malu jika keluarga kita dianggap hina oleh orang lain. Toh, semua yang kita miliki di dunia, cuma titipan. Bukan harta atau titel berderet bekalmu di akhirat nanti, tapi amal ibadah selama hidup. Kita memang nggak kaya harta, tapi berusahalah untuk kaya hati.”

Mata Amin berkaca-kaca teringat nasehat Emak dulu. Ah, hidup ini mirip jalanan panjang. Sebagai penumpang, kita tak pernah tahu berapa banyak tikungan tajam, tanjakan terjal, dan turunan curam yang mesti ditempuh. Ya, ya, hidup adalah mimpi yang menyeramkan. Amin ingat lagi kalimat itu. Ia pernah membacanya waktu nebeng nonton film Gladiator di rental VCD dekat rumahnya.

Zaman yang bengis memaksa Amin melupakan masa kecil yang mestinya penuh tawa. Sudah lama Amin putus sekolah. Kata Emak, tak ada uang untuk itu. Jangankan pendidikan, untuk biaya hidup mereka sehari-hari saja seperti nafas orang sekarat. Berapalah upah tukang cuci dibanding kebutuhan yang membengkak? Meski nyambi menerima jahitan di rumah, hasilnya pun tetap pas-pasan.

Mau tak mau, anak semata wayang itu ikut membantu. Di modali semir, lap, sikat, dan sendal jepit oleh Emaknya, Amin menjelma jadi seekor burung kecil yang belajar mengepakkan sayap. Hinggap di kantor-kantor, pertokoan, apotik, rumah makan, dan tempat-tempat lain. Merayu orang-orang agar mau menyemir sepatu.

Sayang, bapaknya terlalu lama hanyut dalam kekecewaan semenjak pabrik tempatnya jadi mandor gulung tikar. Konon, biaya operasionalnya kelewat tinggi. Biaya litrik, telepon, dan BBM naik. Karyawan terpaksa dipangkas. Bapak Amin satu dari sekian banyak korbannya.

Sambil bertahan dengan sisa uang pesangon, Bapak lintang pukang mencari pekerjaan baru. Kerja apa saja halal, katanya dulu. Tapi, jangankan yang halal, yang haram saja sulit. Zaman sekarang lebih mudah menemukan sebatang jarum dalam tumpukan jerami ketimbang mencari pekerjaan.

Bapak frustasi. Emosinya jadi gampang tersulut. Ia bisa menjadi batu karang yang bisu. Tapi, dalam tempo sekejap, ia bisa berubah jadi beruang lapar. Mengutuk dan memaki apa saja. Apalagi, semenjak jadi manusia malam. Bapak jarang pulang. Waktunya habis di jalan. Mabuk bersama teman senasib, atau mimpi menangguk uang banyak di meja judi.
***
Sebuah lorong sempit di pasar. Bau pesing menyengat. Sampah berserak. Amin bersandar di tembok lumutan. Kotak semir dibiarkan tergeletak di depannya.

Seekor tikus got, gemuk dekil, terbirit-birit menghindari terkaman kucing hitam, sambil bercericit di dekatnya. Lenyap dalam lorong got yang mampat oleh sampah.

“Hhh, nggak cukup, Mak…” desis Amin gamang. Nyaris tak terdengar di telan hiruk pikuk. Matanya seperti lilin redup, menatap tanpa gairah ke lubang got tempat tikus tadi sembunyi. Sunyi menyilet-nyilet waktu.
***
Sajadah itu melambai-lambai. Meledek Amin. Hari rembang petang. Toko-toko mulai tutup. Tekadnya sudah bulat. Ia tak ingin pulang tangan kosong. Sajadah itu harus dimiliki. Setelah sekian lama banting tulang, ia ingin Emak merasa senang, meski cuma secuil saja.

Entah kekuatan macam apa yang merasuki tubuh kecil ringkih itu. Tiba-tiba saja ia berjalan gesit. Melompat. Merenggut sajadah yang tergantung di rak pajangan. Pelayan toko yang sedang membereskan dagangan sebelum pulang, terpana dibuatnya. Ia baru menyadari apa yang terjadi ketika Amin lari membawa kabur sajadah.

“Maling!” pekikan itu, meski hanya sekali, cukup untuk membangkitkan naluri orang-orang. Tanpa dikomando mereka berlari mengejar buruan. Semakin lama semakin bertambah banyak menuding-nuding sosok kecil yang menjauh.

“Tangkap anak itu…!”
“Hoi, anjing! Brenti lu!”
Angin senja menerbangkan suara-suara terbungkus amarah. Melintas di telinga Amin. Wajahnya kian pucat pasi. Keringat menyembul dari setiap lobang pori-pori. Nafasnya memburu. Tak ada pilihan lain. Terus lari bagai kijang luka. Kotak semirnya ketinggalan entah di mana. Sajadah digenggam erat. Wajah Emak berkelebat sesaat.

Apalah arti sepasang kaki kecil dan rapuh dibanding puluhan kaki yang berlari penuh kesumat? Anak malang itu terjebak di sudut pasar. Sekelilingnya tembok tinggi dan asing. Andai Amin punya sayap, ia sudah terbang menyelamatkan diri.

Orang-orang makin bernafsu melihat buruannya terkepung. Air kencing yang menetes dari celana sudah tak dirasakan Amin lagi. Ia pasrah menyambut orang-orang berwajah keras itu. Begitulah. Pukulan, tamparan, tendangan, makian, terjangan, sabetan kayu dan tali pinggang, silih berganti mencicipi tubuh ringkih itu. Mereka berpesta di tubuh Amin. Sia-sia saja melolong minta ampun. Senja itu, menjelang maghrib, orang-orang berubah jadi serigala buas dan lapar.

Untung masih ada manusia baik yang tersisa. Bapak gemuk, berkaus oblong tipis, menyibak kerumunan. Seorang lelaki ceking mengekorinya.

“Betul, kan, Pak?! Ini anaknya. Apa saya bilang? Sudah lama setan cilik ini saya amati. Saya curiga sama gerak-geriknya. Rupanya, dia ini maling.” Orang-orang baru sadar bahwa mereka pemilik toko dan anak buahnya. Ada yang bergumam menimpali. Ada yang memaki. Ada juga yang nyelonong pergi setelah puas mencicipi tubuh si maling. Bapak itu menyuruh mereka bubar. Jangan main hakim sendiri, apalagi ini anak kecil, katanya.

“Siapa yang main hakim sendiri, Pak?! Justru kami main hakim rame-rame,” celetuk seseorang.
Amin meringis. Ada darah menetes dari sudut bibirnya. Amis. Diseka dengan sajadah. Lewat matanya yang basah, ia melihat gerombolan manusia yang barusan merajamnya. Mata mereka penuh tawa dan api. Amin menggigil.

Pemilik toko mencengkram lengan Amin. Bocah itu meronta ketakutan. Ia tak mau berurusan dengan polisi. Emaknya pasti kaget dan sedih. Tapi, ketika bapak itu bilang mau membawanya ke toko, Amin pasrah.
***

Amin pulang dipayungi azan maghrib. Mata sembab dan tubuh remuk. Nyaris mati anjing. Membayangkan bangkainya digotong sebagai hadiah kejutan buat Emak, Amin merinding. Untung bapak pemilik toko menyelamatkan nyawanya. Lebih mujur lagi, Amin diampuni setelah menceritakan alasannya mencuri sajadah. Amin dinasehati. Diberi sangu. Sajadah itu pun halal untuknya.

Lampu-lampu kota berpendar. Amin tak tahu nasibnya esok atau lusa. Mungkin, hidup yang kejam harus dihadapi dengan cara kejam juga. Ah, peduli setan, pikirnya. Emak pasti menunggu cemas. Cepat pulang dan rayakan kebahagiaan kecil itu. Peluk erat kado buat Emak.

Sajadah beludru. Hijau warnanya. Dihiasi gambar masjid nan megah, dan seruas jalan panjang menuju pintunya. Alangkah indah. Ada jejak darah tersaput di sana.
Bandar Lampung, Januari 03