CINTA
Jika kau memiliki cinta
Jagalah dengan setulus hati
Sirami dengan kasih yang tulus
Sinari dengan kasih yang sejati
Biarlah cinta tumbuh
Biarlah berkembang
Peluklah dengan erat
Jangan biarkan cinta itu hilang
Rasakanlah dalam hidupmu
Rasakanlah hangatnya dalam hati
Biarlah ia memberi warna dalam hidup
Biarlah ia memberi arti kehidupan
Manakala ..
Kau kehilangan cinta
Janganlah menangis karenanya
Tutuplah kisah cinta yang lama
Simpanlah sebagai kenangan
Bahwa cinta itu ada
Bahwa kau pernah merasakannya
Tetapi ....
Jangan tutup hatimu
Untuk cinta yang baru
Yang akan mengisi hari - harimu
Dengan bahagia yang baru
Dengan kepedihan yang baru
Dengan arti yang baru
Namun ..
Jika kau merasa tak ada cinta di hati
Jangan katakan tak ada cinta
Jangan kau ingkari adanya cinta
Jangan kau bunuh cinta itu
Tapi...
Cairkan hatimu yang beku
Bukalah mata hatimu
Singkirkan karang yang menghalang
Hingga akhirnya
Kau dapat melihat
Kau dapat merasakan
Apa arti sebuah cinta
Sebab..
Tak ada yang tak punya cinta
Sebab ...
Kita dilahirkan
Berdasarkan cinta
Kita dilahirkan
Dengan penuh cinta
Jika kau mulai merasakan cinta
Jangan kau pendam cinta itu
Tunjukkanlah dengan lembut
Berikan perhatian dengan kesungguhan
Buatlah agar dia mengerti
Bahwa kau sungguh mencintai
Buatlah dia sadar
Bahwa kau sungguh menyayangi
Dan ingatlah selalu
Jangan kau memberikan cinta dengan paksa
Sadarlah...
Tak selamanya cinta bersambut
Tak selamanya cinta memiliki
Dan berbahagialah
Jika kau telah menunjukkan cinta
----
Genta bukanlah genta sebelum dibunyikan,
lagu bukanlah lagu sebelum dinyanyikan.
Cinta disanubari bukanlah untuk dipendamkan.
Cinta bukanlah cinta sebelum dipersembahkan.
thanks to :
http://geocities.com/mas_sahaka/
Jika Aku Jatuh Cinta
Publikasi: 23/02/2004 10:53 WIB
eramuslim - Ya Allah, jika aku jatuh cinta , cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu... Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cinta ku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu...
Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu...
Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari hati-Mu...
Ya Rabbul izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu...
Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu...
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhir-Mu..
Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu..
Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu...
Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati hati ini telah terhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-Mu dan telah terpadu dalam membela syariat-Mu, penuhilah hati hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada dada kami dengan limpahan keimanan...
Amiinnn...Amiiinnn...Ya Robbal Alamiinnnn.............
Setelah menunggu jam kuliah di Mesjid...
asmayanti_18s@yahoo.com
Anakku Sudah Bisa Kencing Sendiri
Oleh Prie GS (dari suara merdeka)
Kami sekeluarga belum lama ini menyelenggarakan sebuah syukuran sederhana atas keberhasilan anak bungsu kami yang masih balita karena ia sudah bisa kencing sendiri. Ini adalah prestasi pertamanya sejak ia bayi. Kami semua berteriak gembira menyambut hari yang bersejarah ini. Dan si anak bukan main gembira melihat respon sekitarnya yang begitu luar biasa. Ia merasa telah menjadi anak gede, suatu imajinasi yang tak henti-hentinya ia bayangkan. Ia mulai merasa nikmatinya menjadi gede dan menolak disebut sebagai bocah.
Memang kencing pertama ini belum sempurna. Masih muncrat di sana-sini, baju serta kaos anak ini pun menjadi pesing semua. Ia pun belum cukup sabar untuk menunggu tetes terakhir habis dan sudah buru-buru memasukkan titit kecilnya itu kembali ke celana. Tapi siapa peduli atas ketidaksempurnaan ini. Kami semua menciuminya bertubi-tubi dan kami kabarkan prestasi ini ke tetangga dan sanak saudara.
Kami tidak peduli apakah para tetangga ini peduli. Kami juga tak mau repot-repot apakah respon mereka itu sekadar basa-basi, tulus atau malah muak. Yang jelas kami menjadi sibuk dengan kegembiraan kami sendiri. Bagi kami yang merawat ini sejak ia masih dalam kandungan, prestasi semacam ini jelas sesuatu yang mengguncangkan. Inilah ancaman beranak-pinak, kami begini gampang menjadi menyebalkan tanpa kami sadari.
Bayangkan, jangankan membuka celanannya sendiri untuk kemudian bisa pipis sendiri, bahkan ketika anak ini mulai bisa menatap benda-benda, mulai bisa menatap lawan bicaranya pun, kami semua berteriak-teriak gembira. Ketika kemudian ia bisa mengapai-gapai dan bersuara, kami berteriak-teriak lagi. Pendek kata, sepanjang menyangkut soal anak, hidup kami menjadi penuh teriakan.
Tapi setelah rampung menuntaskan hajat kegembiraan ini saya mengajak istri untuk bincang-bincang secara serius. ''Mulai saat ini, anak kita sudah akan terbiasa mengelola tititnya sendiri. Memang masih akan butuh bantuan kita, tapi sepenuhnya, barang itu akan menjadi miliknya yang sangat pribadi. Ia akan menjadi anak muda nanti. Dan kita pernah mengalami sendiri, betapa berat menjadi anak muda. Kita sendiri butuh jatuh bangun untuk menyelamatkan masa muda kita. Jurang menganga di mana-mana dan kita suka atau terpaksa pasti pernah berada di tepi-tepinya. Beruntung tidak sampai nyebur, tapi sungguh itu adalah sebuah tahapan yang sangat berbahaya. Terpeleset sedikit kita sudah langsung akan terkubur di dalam aib bersama.''
Istri saya mulai sentimental. Matanya mulai berkaca-kaca. Saya tetap tidak peduli dan semangat kotbah saya malah menjadi-jadi. ''Padahal kau tahu, mengurus titit itu makin lama makin tidak mudah.Bayangkan, jika banyak remaja sekarang ini tidak cuma bebas pacaran tapi juga bebas begituan. Sambil begituan pun mereka mereka bisa memotret aksinya sendiri, merekamnya sendiri untuk akhirnya dipertontokan sebagai bioskop umum nasional,'' kata saya. Kali ini saya terpaksa menghentikan kotbah karena istri saya sudah menangis dengan kerasnya. Sebabnya jelas, ia pasti tengah membayangkan fantasi buruk tentang anak kesayangannya.
Di luar, anak-anak saya tampak bercanda dengan gembira. Si balita, yang lagi-lagi dengan suara keras pamer pada teman-temannya bahwa betapa ia sekarang sudah bisa pipis sendiri. Sementara banyak anak-anak tertawa mendengar pengakuan anak ini, tangis istri saya malah makin menjadi-jadi.
Susah payah saya menenangkannya, ini bukti bahwa beranak-pinak tidak cuma berisi teriakan dan kegembiraan semata, tapi juga puasa terus-menerus. Puasa dalam berbagi bentuk. ''Aku puasa untuk tidak selingkuh, dan kamu kuat puasa untuk setia,'' kata saya.
''Karena jika orang tuanya rajin puasa, anak-anak itu pasti terperangkap dalam resonansinya. Jika ia melanggar pasti cukup sewajarnya. Jika ia terpeleset, pasti cepat bangunnya dan jika ia salah, pastilah mudah ampunannya,'' tambah saya sok berfilsafat.
Maka tantangan saya pada istri ialah: kuatkah kita berdua selalu berpuasa menghadapi zaman yang keras ini. Ia tidak menjawab. Tapi begitulah gayanya jika ia sedang setuju. Mirip ketika saya pertama kali melamarnya. ''Puasa, siapa takut!'' kami berdua akhirnya tertawa.
source : sejuta_puisi
aku belajar puisi dari langit
kepadanya aku menatap biru,
diaraknya awan merangkai kata
aku belajar puisi dari laut
kepadanya aku terhanyut
di ombaknya rasaku berpadu
aku belajar puisi dari angin
kepadanya ku diterpa alun nada
di pusarannya kutemu inti cerita
aku belajar puisi dari abu
kepadanya aku belajar tersia-sia
di rapuhnya kutahu makna dalam sebuah derita
aku belajar puisi dari lidah
kepadanya terkulum ribuan kata
ditelannya masuk ke darah jadi sebuah nyawa...
-tita- "d magic of this day is you!"
Yang Datang dan Yang Pergi
Jam Dinding menunjukan pukul dua belas malam tepat. Entah kenapa tiba-tiba aku terbangun.Kutatap dalam-dalam wajah istriku yang masih lelap dalam tidurnya.kubelai perlahan anak-anak rambut yang tergerai didahinya.Kamu cantik Ratri...,bisikku perlahan.
Tanpa terasa, usia pernikahan kami sudah menginjak tahun yang ketiga, tapi kami
belum juga dikaruniai anak. Ya..Allah karuniakan kepada kami anak, seorang saja
pun tak mengapa..., begitu jerit do'aku tiap malam diatas sajadah. Tapi, entahlah hikmah apa yang tersembunyi dibalik semua ini. Aku yakin, Allah menyimpan hikmah itu untuk kuketahui kelak.Ya, itu Pasti!!
"Ratri.., bangun... sholat yuuk..."
Kutepuk pipi istriku perlahan.
Ia menggeliat. Aku tersenyum saja. Mungkin ia masih lelah, seharian mengurus rumah. Mengepel, memasak, mencuci, memebersihkan rumah, masih ditambah lagi kesibukannya menulis di media cetak. Ah..aku sayang padamu Ratri...
Akhirnya, aku beranjak sendiri.Berwudhlu dan kemudian tenggelam dalam shalat malamku yang panjang.dan selalu do'a itu yang aku dahulukan. Rabbahuma lain aataitana shaalihan lanakunanna minasy syakiriin. Ya, Allah jika Engkau memberi kami anak shalih, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.
Jam dinding berdentang tiga kali.Ketika aku menghabiskan tiga rakaat terakhir witirku.Kulihat Ratri sudah ada dibelakangku dengan wajah merajuk.Kutatap wajahnya denga geli.
"Kamu kenapa? Mulutnya monyong begitu...??" godaku. Ratri semakin merajuk. "Si Mas mesti begitu..., nggak bangunin Ratri..." protesnya. Aku tersenyum arif. "La Wong, kamu pulas banget tidurnya. Mana tega Mas bangunin.., tadi nulis sampai jam sebelas'kan? Mosok baru tidur satu jam sudah disuruh bangun lagi..." "Iya deeh.., tapi nanti temani Ratri muraja'ah Qur'an yaa..., "pintanya manja. "Inggih, sendiko dawuh.., jawabku dengan logat Jawa yang kaku.Maklum besar di Betawi! Ratri tertawa geli mendengar jawabanku. Serentak jemarinya yang mungil beraksi menggelitik pinggangku. "Ssst.., sudah ah, shalat sana, nanti keburu shubuh..., "elakku. Ratri masih tersenyum sambil mengerjapkan matanya, lucu.
Sering kulihat Ratri termenung menatap ikan-ikan di aquarium kami. Matanya binar menatap kosong ikan-ikan berwarna perak itu. Ia betah diam tanpa ekspresi seperti itu. "Sssst .., Muslimah kok hobi bengong, sihh...?"bisikku persis di telinganya.Ratri tersentak kaget.Pipinya bersemu merah, malu ketahuan melamun. Enngg....ngak kok, ini lho mas..., ikannya bertelur ...,"katanya perlahan. "Ck...pura-pura, dari tadi Mas lihat matamu ngak berkedip, lama banget.Itu bengong namanya, Non...," kuacak kepalanya gemas.
"Ikan saja bisa punya keterunan ya Mas..., kita kapan?" tanyanya lirih, hampir tak terdengar. Seketika mataku memanas.leherku tiba-tiba tercekat. Oh, Allah... ratri tersenyum manis, lalu mengamati lenganku menuju meja makan.Tak lama kemudian ia kembali berceloteh menceritakn aktifitasnya seharian. Ah, ratri....ratri...
Ketika pernikahan kami menginjak tahun kedua, kamu sudah memeriksakan diri secara intensif kedokter kandungan.Hasilnya, kami berdua normal! Dokter cuma menyuruh kami bersabar, berdo'a dan berusaha tentunya.Yah.., barangkali kami berdua memang sedang diuji.
"Nikah lagi aja , Maaasss...,"celetuk Ratri suatu kali. Aku tersentak.Keturunan memang sangat kuharapkan.Tapi membagi cintaku pada ratri dengan wanita lain,meski itu dibolehkan dalam Islam, apa aku sanggup?? Kucubit pipi istriku perlahan. "Ngak takut cemburu?" tanyaku menggodanya. "Cemburu khan manusiawi Mas...,'Aisyah juga cemburu pada Khadijah, tapi bukan cemburu masalahnya Mas..., kalau Mas punya istri lagi, 'khan Ratri bisa ikut membesarkan anak dari istri Mas...," tuturnya panjang lebar. "Kalau dia juga tidak bisa hamil?" "Ambil istri lagi..." "Kalau belum punya anak juga?" "Ambil lagi..." "Hussss....sembarangan!!" protesku pura-pura galak.Kudekap kepala mungilnya erat-erat.
Hari ini hari ulang tahun pernikahan kami yang keempat.umurku sudah dua puluh delapan tahun.Uban dikepalaku sudah belasan jumlahnya.Ketika menikah dulu,Ratri bilang ubanku ada enam lembar!! Dan sampai saat ini kami belum dipercaya Allah untuk menimang seorang anak. Tapi aku masih mencintai Ratri.Dan, tidak akan pernah pudar.
Wajah Ratri yang oval dengan hidung yang bangir dan mulut mungilnya kelihatan merah berseri-seri.Kulihat ia membawa sebuah nampan yang tertutup menuju kearah meja makan.Lalu ia menarik lenganku manja. "Sini Mas...," ajaknya. Aku menurut saja."Happy fourth anniversary...," katanya lembut. Mataku berkaca-kaca.Perlahan kubuka nampan itu.Sebuah kue tart, romantis sekali. Dan sebuah amplop, dengan logo sebuah klinik. Keningku berkerut. Ketika tanganku bergerak hendak mengambil amplop itu, seketika Ratri merebutnya.
"Makan dulu doooong....," protesnya. Aku cuma menggeleng-gelengkan kepala, sambil tersenyum.Tak urung kuraih pisau lalu. "Bismillahirahmanirrahiim..," kupotong kue tart itu.Ratri tersenyum , ia kelihatan bahagia sekali. Kutengadahkan tanganku meminta amplop itu.Ratri menggeleng. Makan dulu..., katanya. Kugaruk-garuk kepalaku dengan gemas. Ni, anak bikin penasaran juga.
Setelah selesai menyantap potongan kue yang kumakan dengan dua kali telan. Dan ratri protes karenanya. Kurenggut amplop di tanganya. Dan Subhanallah..., Maha suci Engkau wahai Rabb seru sekalin alam!!! Ratri hamil!!! Masya Allah...., setelah sekian tahun !!! Seketika aku tersungkur sujud. Air mataku meleleh.Kudekap kepala Ratri erat-erat.Air mataku masih mengalir, menitik membasahi kepala Ratri. Ia mendongak, jemarinya mengahpus air mataku.
"Mas menangis?" tanyanya retoris. Aku mengangguk. Ya, aku menangis ! Tangis syukur.... "Kok, periksa ke dokter ngak bilang-bilang?" protesku "Biarin, nanti ngak surprise ..., katanya.Tiba-tiba aku merasa bersalah.Sejak tahun ketiga pernikahan kami, aku tidak rajin mengikuti tanggal-tanggal haid dan masa subur Ratri seperti dulu. Kudekap Ratri makin erat.
Sejak hari itu, kesehatam Ratri menjadi perhatian utamaku.Aku sering marah-marah kalau Ratri masih juga menulis sampai larut malam. Ya, tiba-tiba aku menjadi sangat cerewet.
Sembilan bulan, lebih delapan hari.Rasanya hari itu tiba..., tadi pagi Ratri sudah mulas-mulas.Katanya mulasnya dimulai dari punggung menjalar sampai kedepan.Aku ribut setengah mati. Kuraih gagang telpon. Aku menelpon seorang teman untuk membawa mobil kerumah.Ratri masih mengeluh mulas-mulas. Tiba-tiba keluar cairan , oh... air ketubanya sudah pecah.
Dirumah sakit aku begitu gelisah. Bapak-ibu yang menungguiku cuma menggeleng-geleng kepala. Maklum anak pertama, begitu kata ibu. Ya , Allah...entah kenapa aku tiba-tiba merasa ketakutan yang luar biasa. Ya Allah,selamatkan istri dan anakku..., bisiku berulang kali.
"Bapak Syiful Bahri?" seorang dokter keluar dari ruang bersalin. "Ya..., saya , Dokter...," sahutku cepat.Kuhampiri dokter itu. "Ada sedikit kelainan, harus dioperasi...Suster, tolong bimbing Pak Syaiful untuk mengisi formulir ini..."kata dokter itu.
Aku tersentak kaget ! Operasi ? Astagfirullah... "tapi..., istri saya tidak apa-apa'kan dokter??" tanyaku khawatir.Dokter itu terdiam. Berdo'alah ...," katanya pelan.Kugigit bibirku erat-erat.Allah..., selamatkan isri dan anakku.. Kuambil wudhu dan sholat di musholla.Kuhabiskan gelisahku disana.
Tiba-tiba kudengar suara tangis bayi. Anakku...,: desisku perlahan.Aku seperti dituntun nuraniku.Bergegas keluar musholla. "Bapak Syaiful Bahri..." "Ya, Dokter..." "Selamat, bayinya perempuan, sehat, tiga setengah kilo,cantik seperti ibunya...kata dokter itu. "Alhamdulilah..."desisku berulang-ulang. "Istri saya dokter?" Dokter itu terdiam.Tiba-tiba ada perasaan tidak enak menjalar disegenap hatiku.Kutatap mata dokter itu dengan tatapan penuh tanya. Tiba-tiba dokter itu menepuk bahuku perlahan, sementara kepalanya pun menggeleng perlahan pula.
Mulutku terngaga seketika. "Ma'afkan .., saya sudah berusaha. Tapi Tuhan menghendaki lain...,"katanya. Air mataku berloncatan tanpa bisa dibendung. Dokter itu perlahan membimbingku masuk ke ruang bersalin.Aku menurut saja tanpa rasa.
Sosok tubuh ditutup kain putih terbaring. Perlahan dokter itu membuka kain penutup itu. Inalilahi wa innailayhi raji'uun...Wajah Ratri terlihat pucat.Tapi bibirnya tersenyum manis..., manis sekali.Kudekap kepala Ratri erat-erat, tangisku tak tertahankan. "Sabar ...sabar...pak..., "hibur dokter itu." Suster, bawa kemari anak Bapak Syaiful Bahri...,"katanya lagi.
Seorang bayi mungil yang masih merah disodorkan dihadapnku.Perlahan kugendong dan kutatap ia. Dadaku masih sesak karena tangis. Kutatap bayi merah itu dan Ratri berganti-ganti. Mereka begitu mirip. Matanya, hidungnya, mulutnya..., Allahu Akbar !!!.
Rupanya ini hikmah itu, Ratri..., Allah memberi kesempatan padaku untuk menemanimu selama empat tahun, untuk akhirnya memanggilmu setelah ia memberikan gantinya..... Ya, Allah jangan biarkan hatiku berandai-andai, seandainya saja aku tidak mengahrapkan anak, jika itu membawa kematian Ratri..., ini semua takdir-Mu, ya Rabbi.... Selamat Jalan Ratri.....................
Sumber: Cahaya di atas Cahaya, Izzatul Jannah
NEGERIKU
Oleh :
A. Mustofa Bisri
mana ada negeri sesubur negeriku?
sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung
tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya didunia
dan burung-burung indah piaraan mereka
berasal dari hutanku
ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku
emas dan perak perhiasan mereka
digali dari tambangku
air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku
mana ada negeri sekaya negeriku?
majikan-majikan bangsaku
memiliki buruh-buruh mancanegara
brankas-brankas ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku
negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai taulannya
terkaya di dunia
mana ada negeri semakmur negeriku
penganggur-penganggur diberi perumahan
gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok dibri rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi
tikus dan kucing
dengan asyik berkolusi
(Mustofa Bisri 1414)
S O A L
Rakyat - (Penguasa + Pengusaha) : (Umara + Ulama) +
(Legislatif - Eksekutif) + (Cendekiawan x Kiai) = ?
(Mustofa Bisri 1993)
Seorang Kurir dan Koper Hitam
Minggu, 25 Januari 2004
Cerpen Elba Damhuri
Jumat siang ini menjadi hari yang menentukan bagiku. Bukan karena cita-citaku ingin jadi pejabat atau anggota dewan tercapai sehingga hari ini teramat istimewa buatku. Bukan pula karena keinginanku mendapat istri cantik dan soleh terwujud. Bukan. Bukan itu.
Dari kabar yang masuk lewat SMS-ku pagi tadi, seseorang bilang bahwa ada seorang kurir yang akan membawa koper hitam ke tempatku. Ya sekitar jam tiga sore-lah. Aku sendiri sejak lama menantikan masuknya pesan seperti itu. Dan tentu, beberapa rekan sefraksi dan fraksi lainnya pasti menantikan pesan yang sama. Aku sangat yakin itu.
Bagiku, ini bukan yang pertama terjadi. Ketika aku bersama teman-teman di komisi sembilan berhasil menyetujui penjualan PT Telekomunikasi Lancar Tbk --sebuah badan usaha milik negara sektor telekomunikasi-- pesan seperti itu datang: Seorang kurir dengan koper hitam akan mendatangi Anda tepat jam sepuluh pagi di kantor Anda.
Kala itu, aku tak sabar menunggu tibanya waktu itu. Sejak dari rumah hingga di kantor, senyum ramah selalu keluar dari wajahku. Satpam rumah, juga orang-orang se-kantor, aku sapa dengan hangat. Wartawan yang menelpon, aku sambut dengan riang. ''Besok ke kantor ya,'' kataku menutup pembicaraan dengan seorang wartawan harian nasional yang biasa mengutip statement-ku.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun datang. Tepat jam sepuluh pagi, Nina, sekretarisku, bilang ada seseorang yang ingin bertemu. Aku tersenyum. ''Suruh dia masuk,'' kataku sambil merapikan jas. Terdengar suara Nina menutup gagang telepon dan mempersilakan tamu itu masuk.
''Assalamualaikum Pak Sofyan,'' sapa pria bertumbuh pendek sedikit gemuk dengan rambut ikal itu. ''Alaikumussalam,'' jawabku sambil mempersilakan pria itu duduk. Tangan kanan pria itu memegang koper hitam. Mataku tak henti-hentinya menatap koper itu. Pasti, orang inilah yang aku tunggu-tunggu.
''Saya dapat amanat untuk menyerahkan koper ini ke bapak,'' pria itu memulai pembicaraan.
Betul. Dia pasti kurir yang diutus untuk memberikan ganjaran kepadaku. Jantungku berdebar. Pria itu terlihat tenang dan tampak terbiasa menghadapi situasi seperti ini.
''Pak menteri dan pak dirut memberikan ini sebagai ucapan terima kasih atas jerih payah bapak,'' kata pria itu sambil menyodorkan koper hitam itu kepadaku. Aku angkat koper itu dan meletakkannya di kursi sebelah aku duduk. Belum sempat aku bicara, pria itu ngomong lagi. ''Itu saja, Pak. Saya mesti pergi.'' Dia pun berdiri dan menjabat tanganku. Aku agak kikuk tapi kucoba untuk tetap rileks.
Tak ada suara keluar dari mulutku kecuali ucapan terima kasih. Segera kusodorkan amplop berisi uang seratus ribuan sebanyak lima puluh lembar. ''Makasih, Pak,'' katanya sambil terus pergi. Tanpa menoleh, dia terus berlalu dan menghilang begitu pintu ruangan tertutup.
Langsung kubuka koper itu. Sebuah kartu kecil berisi ucapan terima kasih dari seorang menteri tergeletak di atas tumpukan uang ratusan ribu rupiah. Di surat itu tertulis jumlah uang sebesar Rp 300 juta.
Dadaku masih berdegup kencang. Aku elus uang itu. Terlintas di kepalaku berbagai hal yang selama ini aku pikirkan. Mobil baru, renovasi rumah, jalan-jalan sekeluarga ke luar negeri, umroh, modal buat pemilu tahun depan, dan tentu saja kawin lagi... Ah tidak. Naik haji lagi saja.
Belum selesai aku membayangkan apa yang akan kulakukan dengan uang ini, telpon genggamku berdering. Bunyi tone-nya musik shalawatan. Aku lihat nomornya dan langsung kukenali. Segera aku terima telpon itu. ''Beres, Pak,'' kataku singkat.
Tujuh bulan sudah peristiwa itu berlalu. Aku sendiri hampir lupa. Maklumlah, sebagai wakil rakyat dari sebuah partai berasaskan agama, kegiatanku penuh. Ada rapat-rapatlah, pembahasan undang-undang, belum lagi aktivitas partai ke pelosok daerah.
Kini, pesan itu telah datang lagi. Tepat pukul tiga sore Jumat ini, seorang kurir akan memberikan sebuah koper hitam. Lagi. Ya, itu sebagai tanda atas dukungan suksesnya pergantian direksi baru di sebuah BUMN kelas kakap.
Sesuai kesepakatan dengan beberapa rekan di fraksi, aku ikut mendukung satu kelompok direksi. ''Komisinya lumayan. Paling kecil 300 jutaan,'' kata seorang rekan dari fraksi terbesar di parlemen. Sepekan sebelum pergantian, aku dan lainnya menerima uang muka 50 jutaan.
Cash.
Usai shalat Jumat aku sudah nongkrong di kantor. Nina, sekretarisku, kupesankan untuk tidak menerima tamu kecuali seorang kurir yang menenteng koper hitam. Seperti biasa, Nina mengangguk dan kembali menyibukkan dirinya membaca arsip-arsip.
Baru pukul dua sore. Tinggal satu jam lagi. Dorongan untuk segera tiba waktu itu tak tertahankan. Aku isi waktu dengan memencet-mencet remot tivi, menggonta-ganti saluran tivi. Tetap saja, tak pengaruh.
Hingga ketika Nina bilang ada telpon, segera kuperintahkan untuk memforwardnya ke telpon ruangan. ''Dari Kemal, Pak,'' kata Nina. Kutarik bafas dalam. Bukan telpon yang aku tunggu-tunggu. Kenapa Kemal anakku yang duduk di kelas enam SD- menelpon sore-sore begini. ''Yah, tadi Kemal berantem,'' suara Kemal dari gagang telpon.
''Lho, kok bisa?''
''Kemal kesal Yah. Abis dia menghina Ayah.''
''Menghina gimana?''
''Temen Kemal bilang kalo pejabat itu kerjanya tukang boongin rakyat. Dia juga bilang pejabat cuma bisa korupsi. Kata kakaknya yang wartawan, pejabat kayak Ayah juga seperti itu. Kemal kan kesal Yah. Terus Kemal pukul aja mukanya.''
Sesak dadaku mendengar itu. Kemal terus cerita. ''Kemal bilang, Ayah orang yang jujur. Ayah juga orang baik, selalu ngajak Kemal shalat ke mesjid. Ayah juga sering membelikan mainan dan ngajak aku jalan-jalan.''
Tak tahan aku mendengar cerita si bungsu, anak yang paling aku sayangi. ''Ayah tidak korupsi kan?'' Kemal kembali bicara. Aku diam saja. Mataku menerawang ke langit-langit ruang kecil kantorku.
''Yah! Kok diam sih.'' Suara Kemal semakin kencang.
''Ya tidak dong sayang. Kan Tuhan membenci orang yang jahat,'' kataku, berat. Kemal pun mengakhiri pembicaraan sambil minta oleh-oleh sepulangku dari kantor. Seperti biasa.
Hujan turun rintik. Aku perhatikan dari kaca ruangan, beberapa orang berlari-lari mencari tempat berteduh di bawah sana. Dua-tiga pedagang minuman dan makanan merapatkan gerobak dagangannya di teras gedung. Pikiranku kembali mengawang ke anakku Kemal. Juga, kurir yang akan membawa koper.
Ya, ini memang hari yang sangat berarti bagiku. Banyak orang bilang aku masih muda, cerdas, dan memiliki masa depan politik bagus. Partai tempat aku bernaung pun meminta agar aku tetap mendaftar lagi jadi caleg tahun depan. ''Jelas, kamu butuh banyak uang untuk itu,'' kata Cholil Sudjais, sekretaris fraksi partaiku, suatu hari.
Aku juga teringat permintaan istriku jalan-jalan keliling Eropa. Dia merengek kepadaku untuk mengajak kedua orang tua dan seorang adiknya. ''Bisa kan, Yah,'' pinta istriku. Aku sendiri sudah berjanji untuk menyisihkan waktu pergi ke sana.
Tatkala memikirkan itu, sekilas melesat dalam fantasiku tausiyah Aa Gym yang menyerukan untuk hidup lurus-lurus saja. ''Percuma kita kaya kalau Allah tidak ridho,'' kata Aa Gym. Lihat tukang becak, kata Aa, meski duit di dompetnya sedikit, tapi halal.
Telpon ruangan berdering lagi. Ragu aku mengangkatnya. Bayangan Kemal, Aa Gym, Soedjais, istriku, dan Eropa serentak muncul di kepala. Suara telpon terus berdering memekkakan telinga. Tak lama, suara telpon itu berhenti.
Kuusap wajahku dengan kedua telapak tangan. Perang batin antara menerima atau menolak koper hitam itu berkecamuk. Memalukan memang. Kader partai agama seperti aku ini berkolusi seperti itu. Bayangan anakku kembali muncul. Jelas, aku harus tolak itu.
Sesaat pintu ruangan diketuk. ''Pak, ada tamu yang katanya sudah janji ketemu jam tiga,'' kata Nina. ''Dia bawa koper hitam.'' Tak ada jawaban lisan dariku, kecuali bahasa tangan meminta Nina untuk mempersilakan tamu itu masuk.
Seorang wanita mengenakan blazer hitam dipadukan rok mini berwarna hitam masuk ke ruangan dengan menenteng koper hitam. Wanita? Biasanya laki-laki pendek yang menemuiku.
''Saya tidak lama. Saya hanya membawakan titipan dari bapak Sahal Soemantri,'' kata wanita usia 20 tahunan itu sambil menyodorkan koper hitam yang dibawanya. ''Saya yakin Bapak sudah tahu.''
Ya jelas tahu. Itu kan bayaran atas dukunganku memilih Sahal sebagai Dirut PT Bank Sendiri Tbk. Kupandangi koper hitam yang kembali membawa fantasi macam-macam di pikiranku. ''Gimana, Pak?'' Wanita itu kembali angkat bicara.
''Oh iya. Tapi begini, tolong katakan pada Pak Sahal, saya tidak bisa mene....''
''Begini, Pak,'' wanita itu langsung memotong. ''Saya harus memberikan koper ini kepada Bapak. Kalau bapak punya pikiran lain, saya harap Bapak langsung berbicara dengan Pak Soemantri saja. Saya tidak mungkin keluar dari ruangan ini kalau tetap membawa koper ini.''
''Lagipula,'' dia melanjutkan, ''Isi di dalam koper ini mungkin bisa meringankan beban Bapak di pemilu tahun depan.''
Oh Mein Gott*. Kenapa dia harus bicara soal pemilu. Kenapa wanita itu merasa sok tahu dengan apa yang kupikirkan. Brengsek. ''Oke. Saya terima.''
Wanita itu tersenyum. Semakin cantik saja dia. Tapi bagiku, itu seperti senyum penghinaan. Dia pun meninggalkan ruangan, sementara aku tak memberinya apa-apa.
''Oh ya, sekretaris Bapak tahu di mana mencari saya malam ini,'' kata wanita itu sebelum menutup pintu ruangan.
Aku tersenyum kecut. Kubuka koper hitam yang berisi tumpukan uang ratusan juta itu. Lagi, muncul bayangan pembicaraanku dengan Kemal. Selintas kemudian, pikiranku dikacaukan ucapan Cholil Soedjais. Juga, omongan sinis wanita itu.
Ya sudahlah. Aku pun tak kuasa untuk mengembalikan koper hitam ini. Demi anakku, aku berjanji ini menjadi koper terakhir. ''Maafkam aku Tuhan,'' kataku sambil menutup koper hitam itu. Entah mengapa, senyum cerah pun hadir di wajahku.
Ya Tuhanku (bahasa Jerman).
Never Stop
By Bro/Sis
If we believe in the power
That's deep within
We can forever change this world
And if we imagine
That dreams can really come true
Faith will take us to the top
Faith will take us to the top
Chorus:
Never stop fighting
Never stop dreaming
Never stop trying-don't give up!
Never stop thinking
Wishful thinking
Cuz'if we really wanna win
If we really wanna win...
Never stop!
Let's stay together
Whatever might come our way
Hand in hand we'll stand until the end
Hand in hand we'll stand until the end
Repeat chorus
Here we come
Spread the word
We're gonna fight
And we're gonna win
Side by side
You and I
We'll never stop
Never stop...
Never stop fighting...
SAJADAH EMAK
Penulis:M. Arman AZ
Langkah Amin berakhir di depan sebuah foto. Sambil mengusap ingus yang meleleh dengan lengan baju sebelah kiri, kepalanya mendongkak. Ia meneliti barang-barang yang terpajang di rak. “Ah, masih ada di situ,” katanya dalam hati. Lega. Ia berharap semoga tak ada yang mendahuluinya. Mungkin, dua atau tiga hari lagi uangnya baru cukup untuk membayar benda itu.
Sajadah beludru. Hijau tua warnanya. Dihiasi gambar masjid megah, dan seruas jalan panjang menuju pintu masjid. Alangkah indah. Benda itulah yang dua minggu belakangan kerap singgah di benak Amin.
Amin tersentak. Jerit klakson sebuah mobil sedan yang mau parkir membuyarkan lamunannya. Bagai anjing geladak di usir kelasi, bocah itu kembali menyeret langkah. Masih sempat didengarnya pengendara mobil mengumpat kesal. Amin tahu, makian itu ditujukan padanya. Ia tak punya nyali untuk menoleh. Kepalanya tetap merunduk dan terus saja berjalan. Seorang pelayan toko mengamati sosok yang menjauh itu dengan pandangan menyelidik.
***
Jalanan melepuh oleh terik matahari. Pasar hiruk pikuk. Semrawut. Sampah-sampah menari gelisah dibawa angin. Comberan meruapkan bau busuk. Tapi Amin tak merasakannya sama sekali. Ia masih di sana, menyusuri trotoar demi trotoar. Pikirannya di kepung gelisah.
Kenapa waktu berputar seperti gasing? Kenapa hidup sulit diajak kompromi? Amin risau. Lima hari lagi ulang tahun Emak dan sajadah itu masih terpajang di toko. Melambai. Merayu anak kecil itu. Sekian lama menyisihkan uang, belum juga cukup untuk membelinya. Sebagian sudah diminta Emak untuk mengasapi dapur dan membayar ini-itu. Amin tak tega menolaknya
Amin sadar. Keluarganya kere. Mustahil meniru bocah selebritis yang santai melepas puluhan juta terbang untuk merayakan pesta ulang tahun di hotel mewah. Ia tersenyum getir. Tapi, walau sudah nasib, toh tak ada salahnya emak mengecap secuil kebahagiaan. Dan untuk ulang tahunnya kali ini, Amin ingin memberi Emak hadiah kejutan. Sebuah sajadah baru. Sederhana, tapi penuh makna.
Sajadah di rumah sudah tak layak pakai. Tipis digerus usia. Banyak jahitannya yang tanggal. Bahkan, Amin pernah memergoki Emak salat beralas tikar. Sedih sekali melihatnya.
Ya, ulang tahun Emak. Saat yang tepat untuk memberi sajadah baru. Amin pun mendambakan saat-saat nan indah itu. Emak tegak di atas sajadah. Keningnya mendarat mulus di beludru halus. Mendengar ayat-ayat Al Quran terlantun syahdu dari mulut Emak di tengah malam yang hening. Ditemani sajadah hasil keringatnya.
***
Senja. Pulang nyemir di pasar, Amin mendapati Emak rebah di kursi tamu. Ia merasa ada yang tak beres. Kenapa Emak melengos waktu ia mengucap salam? Sekilas sempat dipergoki mata Emak. Sembab. Ada lebam biru samar di bawah mata kirinya. Amin bergegas meletakkan kotak semir ke dalam kamar, kemudian menyambangi Emak.
“Ada apa, Mak? Kenapa nangis?” beruntun tanya Amin. Ia duduk di sebelah Emak. Bahasa tubuhnya menyiratkan kekhawatiran. Jemarinya berusaha menggapai pipi emak, tapi perempuan itu sigap menepisnya.
“Ah, nggak apa-apa. Cuma kepeleset waktu mau ke kamar mandi,” singkat jawab Emak. Dielusnya kepala Amin sambil menyuruh anak tunggalnya itu mandi.
Amin menarik nafas. Ia memang masih kecil, tapi nalurinya terasah di jalanan. Instingnya menyimpulkan bahwa sesuatu telah terjadi di rumah ini, dan Emak berusaha menyembunyikannya. Pandangan Amin beredar mengamati ruangan. Menebak apa yang mungkin saja terjadi sewaktu ia pergi.
“Bapak tadi pulang, ya, Mak?!” celetuk Amin tiba-tiba. Nadanya gamang. Entah apa yang berkelebat di benak Amin, hingga kalimat itu melompat dari mulutnya. Kali ini, sorot mata Amin menagih jawaban jujur. Emak gugup dan salah tingkah melihat cara anaknya menatap.
Bungkam Emak cukup jadi jawaban buat Amin. Pasti, Bapak barusan pulang ke rumah. Lalu, seperti biasa, Bapak merayu Emak agar memberinya uang. Lelaki itu paling lihai membuat alasan. Untuk fotokopi berkaslah, untuk menyogok kepala personalialah, untuk ongkoslah. Padahal semuanya muslihat belaka. Selama ini, Amin tak pernah mengadu pada Emak siapa yang kerap dipergokinya di gardu reot dekat pasar. Bapak! Ya, Bapak. Mata Amin belum buta. Bayangan itu masih jelas di benaknya. Bapak yang membanting-banting kartu di antara kerumunan orang. Wajahnya kelewat tegang, hingga tak sempat lagi memergoki Amin yang kebetulan melintas di dekatnya.
Kasihan Emak. Ia sudah terlalu sering mengalah. Pernah sekali waktu, ketika Bapak minta uang banyak Emak menentang habis-habisan. Tak ada uang lagi, tolaknya. Mereka butuh beras, lauk-pauk, bayar listrik, dan mencicil hutang di warung Bu Hamid. Bapak yang syaraf-syarafnya ditunggangi alkohol malah mengobral sumpah. Isi rumah di obrak-abrik. Apalagi waktu menemukan beberapa lembar uang di bawah kasur, genap sudah amarahnya. Emak ditampar berkali-kali, lalu ditingalkan begitu saja.
***
Amin terjaga dari tidur. Ia mendengar isak tertahan di ruang tamu. Perlahan sekali ia bangkit dari ranjang. Mengintip keluar kamar. Amin tertegun melihat pemandangan itu. Emak sedang bersimpuh di atas sajadah. Pandangannya menembus langit-langit rumah. Meraba-raba dalam gelap. Mencari-cari Tuhan.
Amin menelan ludah. Getir. Hari ini, tambah satu usia Emak. Tak ada balon warna-warni, kue tart, atau acara tiup lilin. Dini hari yang hening. Emak memulainya dengan salat tahajud.
Ah, Emak, Emak. Empat puluh lima tahun umurnya kini. Bukan waktu yang singkat untuk mengarungi samudera kehidupan. Badai dan riak ombak datang silih berganti. Emak menghadapinya penuh ketabahan. Dari beliaulah Amin belajar gagah menghadapi hidup.
“Jangan sedih dan malu jika keluarga kita dianggap hina oleh orang lain. Toh, semua yang kita miliki di dunia, cuma titipan. Bukan harta atau titel berderet bekalmu di akhirat nanti, tapi amal ibadah selama hidup. Kita memang nggak kaya harta, tapi berusahalah untuk kaya hati.”
Mata Amin berkaca-kaca teringat nasehat Emak dulu. Ah, hidup ini mirip jalanan panjang. Sebagai penumpang, kita tak pernah tahu berapa banyak tikungan tajam, tanjakan terjal, dan turunan curam yang mesti ditempuh. Ya, ya, hidup adalah mimpi yang menyeramkan. Amin ingat lagi kalimat itu. Ia pernah membacanya waktu nebeng nonton film Gladiator di rental VCD dekat rumahnya.
Zaman yang bengis memaksa Amin melupakan masa kecil yang mestinya penuh tawa. Sudah lama Amin putus sekolah. Kata Emak, tak ada uang untuk itu. Jangankan pendidikan, untuk biaya hidup mereka sehari-hari saja seperti nafas orang sekarat. Berapalah upah tukang cuci dibanding kebutuhan yang membengkak? Meski nyambi menerima jahitan di rumah, hasilnya pun tetap pas-pasan.
Mau tak mau, anak semata wayang itu ikut membantu. Di modali semir, lap, sikat, dan sendal jepit oleh Emaknya, Amin menjelma jadi seekor burung kecil yang belajar mengepakkan sayap. Hinggap di kantor-kantor, pertokoan, apotik, rumah makan, dan tempat-tempat lain. Merayu orang-orang agar mau menyemir sepatu.
Sayang, bapaknya terlalu lama hanyut dalam kekecewaan semenjak pabrik tempatnya jadi mandor gulung tikar. Konon, biaya operasionalnya kelewat tinggi. Biaya litrik, telepon, dan BBM naik. Karyawan terpaksa dipangkas. Bapak Amin satu dari sekian banyak korbannya.
Sambil bertahan dengan sisa uang pesangon, Bapak lintang pukang mencari pekerjaan baru. Kerja apa saja halal, katanya dulu. Tapi, jangankan yang halal, yang haram saja sulit. Zaman sekarang lebih mudah menemukan sebatang jarum dalam tumpukan jerami ketimbang mencari pekerjaan.
Bapak frustasi. Emosinya jadi gampang tersulut. Ia bisa menjadi batu karang yang bisu. Tapi, dalam tempo sekejap, ia bisa berubah jadi beruang lapar. Mengutuk dan memaki apa saja. Apalagi, semenjak jadi manusia malam. Bapak jarang pulang. Waktunya habis di jalan. Mabuk bersama teman senasib, atau mimpi menangguk uang banyak di meja judi.
***
Sebuah lorong sempit di pasar. Bau pesing menyengat. Sampah berserak. Amin bersandar di tembok lumutan. Kotak semir dibiarkan tergeletak di depannya.
Seekor tikus got, gemuk dekil, terbirit-birit menghindari terkaman kucing hitam, sambil bercericit di dekatnya. Lenyap dalam lorong got yang mampat oleh sampah.
“Hhh, nggak cukup, Mak…” desis Amin gamang. Nyaris tak terdengar di telan hiruk pikuk. Matanya seperti lilin redup, menatap tanpa gairah ke lubang got tempat tikus tadi sembunyi. Sunyi menyilet-nyilet waktu.
***
Sajadah itu melambai-lambai. Meledek Amin. Hari rembang petang. Toko-toko mulai tutup. Tekadnya sudah bulat. Ia tak ingin pulang tangan kosong. Sajadah itu harus dimiliki. Setelah sekian lama banting tulang, ia ingin Emak merasa senang, meski cuma secuil saja.
Entah kekuatan macam apa yang merasuki tubuh kecil ringkih itu. Tiba-tiba saja ia berjalan gesit. Melompat. Merenggut sajadah yang tergantung di rak pajangan. Pelayan toko yang sedang membereskan dagangan sebelum pulang, terpana dibuatnya. Ia baru menyadari apa yang terjadi ketika Amin lari membawa kabur sajadah.
“Maling!” pekikan itu, meski hanya sekali, cukup untuk membangkitkan naluri orang-orang. Tanpa dikomando mereka berlari mengejar buruan. Semakin lama semakin bertambah banyak menuding-nuding sosok kecil yang menjauh.
“Tangkap anak itu…!”
“Hoi, anjing! Brenti lu!”
Angin senja menerbangkan suara-suara terbungkus amarah. Melintas di telinga Amin. Wajahnya kian pucat pasi. Keringat menyembul dari setiap lobang pori-pori. Nafasnya memburu. Tak ada pilihan lain. Terus lari bagai kijang luka. Kotak semirnya ketinggalan entah di mana. Sajadah digenggam erat. Wajah Emak berkelebat sesaat.
Apalah arti sepasang kaki kecil dan rapuh dibanding puluhan kaki yang berlari penuh kesumat? Anak malang itu terjebak di sudut pasar. Sekelilingnya tembok tinggi dan asing. Andai Amin punya sayap, ia sudah terbang menyelamatkan diri.
Orang-orang makin bernafsu melihat buruannya terkepung. Air kencing yang menetes dari celana sudah tak dirasakan Amin lagi. Ia pasrah menyambut orang-orang berwajah keras itu. Begitulah. Pukulan, tamparan, tendangan, makian, terjangan, sabetan kayu dan tali pinggang, silih berganti mencicipi tubuh ringkih itu. Mereka berpesta di tubuh Amin. Sia-sia saja melolong minta ampun. Senja itu, menjelang maghrib, orang-orang berubah jadi serigala buas dan lapar.
Untung masih ada manusia baik yang tersisa. Bapak gemuk, berkaus oblong tipis, menyibak kerumunan. Seorang lelaki ceking mengekorinya.
“Betul, kan, Pak?! Ini anaknya. Apa saya bilang? Sudah lama setan cilik ini saya amati. Saya curiga sama gerak-geriknya. Rupanya, dia ini maling.” Orang-orang baru sadar bahwa mereka pemilik toko dan anak buahnya. Ada yang bergumam menimpali. Ada yang memaki. Ada juga yang nyelonong pergi setelah puas mencicipi tubuh si maling. Bapak itu menyuruh mereka bubar. Jangan main hakim sendiri, apalagi ini anak kecil, katanya.
“Siapa yang main hakim sendiri, Pak?! Justru kami main hakim rame-rame,” celetuk seseorang.
Amin meringis. Ada darah menetes dari sudut bibirnya. Amis. Diseka dengan sajadah. Lewat matanya yang basah, ia melihat gerombolan manusia yang barusan merajamnya. Mata mereka penuh tawa dan api. Amin menggigil.
Pemilik toko mencengkram lengan Amin. Bocah itu meronta ketakutan. Ia tak mau berurusan dengan polisi. Emaknya pasti kaget dan sedih. Tapi, ketika bapak itu bilang mau membawanya ke toko, Amin pasrah.
***
Amin pulang dipayungi azan maghrib. Mata sembab dan tubuh remuk. Nyaris mati anjing. Membayangkan bangkainya digotong sebagai hadiah kejutan buat Emak, Amin merinding. Untung bapak pemilik toko menyelamatkan nyawanya. Lebih mujur lagi, Amin diampuni setelah menceritakan alasannya mencuri sajadah. Amin dinasehati. Diberi sangu. Sajadah itu pun halal untuknya.
Lampu-lampu kota berpendar. Amin tak tahu nasibnya esok atau lusa. Mungkin, hidup yang kejam harus dihadapi dengan cara kejam juga. Ah, peduli setan, pikirnya. Emak pasti menunggu cemas. Cepat pulang dan rayakan kebahagiaan kecil itu. Peluk erat kado buat Emak.
Sajadah beludru. Hijau warnanya. Dihiasi gambar masjid nan megah, dan seruas jalan panjang menuju pintunya. Alangkah indah. Ada jejak darah tersaput di sana.
Bandar Lampung, Januari 03